Pasar dan Istana

http://hardiwinoto.com/jika-tuhan-mati-di-tengah-pasar/

Pepatah mengatakan bahwa “pasar dapat lebih mewah dari istana, juga lebih mengerikan dari penjara, karena di pasar ada orang dari istana atau mereka yang hendak masuk penjara”.

http://hardiwinoto.com/industrialisasi-partai-politik/

Semenarik itukah sebuah pasar? Mari kita ceburkan nalar kita pada definisi pasar. Tentu kita lihat bahwa istana sesungguhnya adalah pasar raksasa, sebagai pusat transaksi segala transaksi. Kita tentu sangat senang kepada pasar. Semakin besar skala pasar, semakin lengkap segala hal dapat kita transaksikan. Kita perhatian, bahwa jabatanpun dapat ditransaksikan. Mungkin pantai, gunung, laut atau pulau hanya bisa ditransaksikan di pasar yang berada di istana. Gila, ya memang gila. Kurang ajar, ya memang kurang ajar. VOC bisa sangat lama menjajah Nusantara karena VOC berdagang dengan para raja di istana.

Di kampung saya, ada keyakinan bahwa orang gila tidak akan dapat sembuh jika sudah terlanjur masuk ke sebuah pasar, atau orang tersebut akan semakin gila. Memang, di pasar dapat ditemukan banyak sajian makanan enak, pakaian bagus, kendaraan mewah, kesempatan kerja sesuai selera, tempat-tempat wisata, bahkan jabatan-jabatan yang menggiurkan. Mungkin itulah yang membuat orang semakin gila.

Pasar, bisa diartikan tempat atau mekanisme yang misterius, yang tidak bisa ditebak, penuh kejutan-kejutan. Di pasar ada orang jujur, juga ada yang licik, ada copet, begal, juga pencuri timbangan. Atau mencuri kata-kata, kalau di istana mencuri pasal-pasal. Sebagai miniatur dunia, pasar dihuni oleh segala karakter orang. Nietzsche, pada sebagian tulisannya yang terkenal, yaitu “the  gay science”. Diceritakan bahwa, seseorang yang gila datang ke sebuah kerumunan dan berteriak-teriak mengenai kematian tuhan.

Ada pepatah bahwa lain ladang lain ilanang, lain lubuk lain ikannya,  dalam konteks pasar, lain pasar lain barangnya, lain pasar lain mekanismenya. Setiap barang yang khas tentu memiliki mekanisme yang khas. Kita pernah mendengar, khususnya tentang mekanisme jual-beli kursi-kursi strategis. Dengan kursi tersebut mampu menghasilkan kata-kata sakti, mantra-mantra kebijakan, yang harganya mampu menciptakan pasar lebih besar lagi, dengan transaksi-transaksi yang besar lagi. Kursi yang demikian tentu berada dalam pasar tertentu. Pasar unik, pasar spesial, yang jarang ditemukan.

Pasar adalah mekanisme bertukar, bertransaksi, berapa jumlah barang dan jasa ditransaksikan dan berapa harga disepakati. Pasar dapat mengantarkan kita kepada istana sekaligus mengatarkan kita ke penjara. Gubernur Jenderal JP Coen membangun istana Hindia Belanda juga berbasis pasar, yaitu rempah-rempah. Pasar mencerminkan pusat kedudukan pemerintahan VOC di abad ke-17 sampai akhir abad ke-18. Dapat dikatakan melambangkan masa VOC (1620-1795) dan pemerintah Hindia Belanda (1795-1942) telah menguasasi pasar di Nusantara.

VOC melancarkan ekspedisi perluasan wilayah kekuasaannya sejalan dengan praktek monopoli dagang yang dipaksakan kepada kerajaan-kerajaan di Nusantara. VOC membangun pasar dengan cara berkolaborasi dengan istana-istana di Nusantara. Sebagian raja-raja dan para pangerannya dijadikan agen-agennya. Kalau perlu diberi upeti dan gaji besar. VOC juga berperan dalam pergantian kekuasaan untuk melanggengkan penguasaan pasar di Nusantara.

***

Kini, untuk menikmati indahnya istana dan berkuasa atas pasar-pasar tentu harus banyak blusukan ke pasar-pasar pula. Di pasar dapat menemui para calon pemilih yang nantinya akan mengantarkan ke istana. Entah pasar yang nantinya akan dibangun jenis yang mana. Pasar neo VOC atau pasar jabatan, atau pasar rakyat, yaitu rakyat yang ditransaksikan. Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya, lain pasar lain produknya.

Kini, juga ada istilah politik dagang sapi. Dalam kamus bahasa indonesia dikatakan  bahwa politik dagang sapi adalah tawar-menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun suatu kabinet koalisi. Perpolitikan bagaikan medan bagi aktor-aktor di sebuah permainan strategis. Pembagian kekuasaan diterapkan sebagaimana di pasar sapi. Para politisi layaknya pedagang sapi yang melakukan hitung-hitungan posisi jabatan, yang nantinya ditukar dengan “sapi”. Transaksi barter “sapi” dengan “kursi”.

Sebagaimana cara bertransaksi di pasar sapi di Sumatra Barat, orang yang melakukan proses tawar-menawar hanya dengan bersalaman, sambil menutup tangan mereka dengan menggunakan kain sarung tanpa berkata-kata. Hanya sesekali mereka menggelengkan atau menganggukkan kepala sebagai sebuah tanda setuju atau tidak dengan penawaran yang diberikan. Pembeli dan penjual sapi yang bertransaksi dan bernegosiasi, hanya dengan isyarat, sehingga tidak ada satu orang pun di sekeliling mereka yang tahu. Dalam konteks politik juga demikian. Istilah “politik dagang sapi” adalah jalinan kesepakatan yang tidak diketahui oleh orang lain. Itulah pasar yang berada di istana. Transaksi-transaksi yang tersembunyi, isyarat-isyarat, anggukan dan gelengan kepala, atau sandi-sandi tertentu berbalas pantun dapat bernama mahar politik, penempatan posisi-posisi strategis, komitmen-komitmen tertentu dan lain-lain (bisa berupa uang, barang, atau jasa yang equivalen dengan harga tertentu oleh para pihak yang berada atau berdekatan dengan istana. Istana bisa berskala kabupaten/kota, propinsi, atau istana negara. Mirip dengan pemenang di pasar. Semakin besar finansial, semakin dapat membeli produk apa saja. Di istana pun terlihat mirip bersepakatnya oleh para bakul sapi ketika bertransaksi. Berapa harga dan seberapa besar sapi diperdagangkan. Ku kira istana ternyata pasar, ku kira pasar ternyata istana.

Hardiwinoto, 2019, Stabilitas Edisi 153, Maret-April 2019

Hardiwinoto Muchtar

Hardiwinoto adalah seorang peneliti ekonomi, dosen, kolomnis, dan pegiat sosial. Kegiatan yang dilakukan terkait dengan koleksi buku-buku ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sastra dan sejarah.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *