Keputusan Investasi Sektor Riil

http://hardiwinoto.com/1436-2/

Keputusan investasi sektor riil adalah keputusan investasi di berbagai sektor, antara lain; sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor manufaktur dan sektor konstruksi. Berikut beberapa contoh keputusan investasi di sektor riil.

9.1. Keputusan Investasi Sektor Pertanian

Potensi investasi di sektor pertanian menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional di Indonesia. BPS (2017) menyebutkan bahwa pada tahun 2016 sektor pertanian menyumbang 15 persen terhadap Produk Domestik Bruto dan mampu menyerap 42 persen angkatan kerja. Sektor pertanian menjadi penyedia pangan dan bahan baku industri serta menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sesuai dengan KTT Ketahanan Pangan Dunia 2009, menghasilkan komitmen untuk meningkatkan investasi di sektor pertanian untuk menjawab masalah kekurangan pangan. Dua komitmen terkait dengan investasi pertanian, yaitu:

  1. Mencegah menurunnya pendanaan domestik dan asing untuk pertanian, ketahanan pangan dan pembangunan pedesaan di negara berkembang.
    1. Meningkatkan investasi untuk produktivitas pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Faktor-faktor produktivitas sektor pertanian rendah, yaitu:

  1. Kekurangan peralatan pertanian.
    1. Cara bercocok tanam yang masih tradisional.
    1. Input modernisasi yang rendah.
    1. Penguasaan IPTEK masih rendah.
    1. Kurangnya modal.

Investasi sektor pertanian dapat mendorong inovasi teknologi sejalan dengan meningkatkan produktivitas agribisnis, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat. Sektor pertanian diupayakan untuk  peningkatan mutu produksi dan pemasaran hasil guna memenuhi swasembada pangan, kebutuhan gizi, dan komoditi ekspor. Sektor pertanian juga mendorong peranserta swasta berinvestasi untuk mengembangkan potensi pertanian.

Sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Pertanian, kebutuhan investasi di sektor pertanian adalah sebesar Rp 1.360,6 trilyun (PMDN 73 persen dan PMA 27 persen). Target kebutuhan investasi swasta pada tahun 2012 diharapkan dapat mencapai Rp 56,28 trilyun dari investor asing (PMA) dan Rp 144,42 trilyun investor dalam negeri (PMDN). Untuk mencapai sasaran tersebut, arah dan strategi kebijakan investasi pertanian adalah menciptakan iklim investasi dan usaha tepat sasaran. Selaras dengan kebijakan investasi sektor pertanian, daerah diharapkan mampu menarik investor untuk daerah masing-masing.

Pengembangan investasi pertanian dilakukan melalui penyediaan informasi tentang peluang agribisnis/agroindustry dan berbagai kebijakan, peraturan dan insentif-insentif yang diberikan oleh daerah kepada masyarakat. Terutama kepada calon investor serta fasilitasi perencanaan investasi. Dengan demikian dapat mendorong calon investor untuk berinvestasi di bidang agribisnis/agroindustry.

Peluang investasi sektor diarahkan pada agribisnis/agroindustry, yaitu perkebunan, peternakan, perikanan, industri pangan, dan pengolahan hasil hutan. Tahun 2011 realisasi PMA mencapai Rp 175,3 triliun, naik 18,45 persen dibanding realisasi PMA 2010 sebesar Rp 148,0 triliun. PMDN mencapai Rp 76 triliun, tumbuh 25,61 persen dibanding realisasi PMDN 2010 sebesar Rp 60,5 triliun. Total investasi sebesar Rp 251,3 triliun pada 2011 itu, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 240 triliun. (Reportase Indonesia.com, 9 April 2012).

Empat bentuk kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu:

• Ekspansi sektor ekonomi lain tergantung output di bidang pertanian, baik dari sisi permintaan maupun penawaran.

• Sumber bahan baku untuk produksi pada sektor lain seperti industri manufaktur dan perdagangan.

Salah satu pendorong produktivitas pertanian adalah investasi. Namun, investasi di sektor pertanian masih rendah, padahal potensi pertanian lebih besar dari sektor lain. Potensi sektor pertanian yang dimaksud adalah potensi penyediaan pangan berkelanjutan, penyerapan tenaga kerja, dan penyedia bahan baku bagi industri.

Faktor-faktor yang mempengaruhi investasi pertanian:

  1. Kebijakan investasi, regulasi dan birokrasi, dan kemauan politik yang dapat berpengaruh pada investasi. Kebijakan investasi antara lain menyangkut bidang-bidang usaha yang diperbolehkan, insentif pajak bagi investor, jangka HGU tanah, depresiasi, dan amortisasi. Regulasi dan birokrasi dan biaya perizinan yang mahal dapat mengurangi minat investasi. Konsistensi kebijakan dan stabilitas politik yang tidak stabil akan menghambat investasi.
    1. Sumberdaya alam berupa kualitas dan jumlah lahan yang cukup, pasokan air dan kondisi iklim yang sesuai akan mendorong investasi. Didukung oleh infrastruktur pertanian yaitu jaringan pengairan dan jalan pertanian berdampak positif terhadap investasi.
    1. Sumberdaya manusia yang memiliki keterampilan tinggi, dan upah tidak terlalu tinggi dapat mendorong investasi.

Berdasarkan sektor usaha, realisasi investasi PMDN paling banyak pada industri tanaman pangan dan perkebunan senilai Rp. 9,4 triliun, disusul industri kertas, barang dan kertas dan percetakan (Rp. 9,3 triliun), listrik dan air (Rp. 9,1 triliun), transportsi, gudang dan telekomunikasi (Rp. 8,1 triliun), dan industri makanan (Rp. 8 triliun). PMA berdasarkan sektor, terbesar adalah transportasi, gudang dan telekomunikasi (3,8 miliar dolar AS), pertambangan (3,6 miliar dolar AS), listrik, gas dan air (1,9 miliar dolar), industri logam, barang logam, mesin dan elektronik (1,8 miliar dolar AS), industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi (1,5 miliar dolar AS).

Laporan Kinerja Kementerian Pertanian tahun 2011 menyebutkan bahwa investasi sektor pertanian cenderung meningkat dari tahun ke tahun, dimana penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 2011 sampai dengan Triwulan III masing-masing sebesar Rp 8,2 triliun dan US$ 1,03 miliar. Besaran investasi PMDN lebih tinggi dibandingkan dengan investasi PMA, dimana pada kedua jenis investasi tersebut lebih banyak di dominasi investasi di bidang pangan dan perkebunan (Kementerian Pertanian, RI, 2012).

Faktor pendorong utama investasi di sektor pertanian menurut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian tahun 2011 adalah prospek pasar komoditas yang makin baik (harga cukup tinggi) dan tersedianya lahan untuk kelapa sawit, karet dan kakao, baik oleh perusahaan besar maupun petani. Permasalahan yang terjadi adalah perkembangan investasi pertanian masih rendah, karena dua alasan, yaitu:

  1. Return of investment lambat.
    1. Investasi khususnya on farm memiliki risiko tinggi karena bergantung pada kondisi musim.

Prospek berinvestasi sektor pertanian sangat besar, terutama produk minyak sawit mentah (CPO). Indonesia berada di urutan kedua setelah Malaysia. Produksi cokelat nomor tiga setelah Pantai Gading dan Ghana, sedangkan karet alam terbesar kedua setelah Thailand. Namun, perhatian pemerintah pada ketiga komoditas masih terfokus pada on farm, belum pada industri hilir off farm yang memberikan nilai tambah.

Beberapa hal minat investor di sektor petanian rendah, diantaranya:

  1. Sektor pertanian memiliki risiko dan ketidakpastian yang sangat tinggi dibanding sektor lain. Climate change menyebabkan fluktuasi produksi sehingga risiko semakin tinggi.
    1. Sarana pendukung sektor pertanian yang kurang tersedia menjadi salah satu faktor investasi pertanian semakin tidak menarik. Antara lain, irigasi yang semakin tidak terawatt, juga infrastruktur pendukung lainnya yangkurang baik, menyebabkan kerusakan hasil panen.
    1. Tidak stabilnya iklim investasi berlaku secara keseluruhan, baik sektor pertanian maupun nonpertanian.
    1. Masih marak pungutan-pungutan liar, sehingga semakin meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan. Masih terdapat tumpang tindih kebijakan antar departemen atau kementrian yang ada dan kurangnya koordinasi antar instansi pemerintahan sehingga menimbulkan kebingungan pada investor
    1. Adanya otanomi daerah yang terkadang kebijakannya tumpang tindih dengan kebijakan pemerintah pusat.
    1. Anggapan bahwa investasi sektor pertanian tidak menarik dibandingkan dengan sektor lain.

Hal penting untuk meningkatkan minat investasi pertanian adalah:

  1. Ketersediaan sumberdaya alam (lahan, air dan iklim) dan sumberdaya manusia yang masih besar. Investasi yang berbasis sumberdaya alam mempunyai pijakan kaki yang kuat.
  2. Permintaan domestik terhadap produk pertanian terus meningkat karena penduduk yang besar dan makin tinggi pendapatan masyarakat. Permintaan dunia terhadap produksi pertanian juga terus meningkat karena beberapa komoditas pertanian yang dibutuhkan, utamanya minyak sawit, karet, kakao, kopi, lada, pala, panili, dan kayu manis.
  3. naiknya harga pangan dunia akhir-akhir ini memberikan peluang lebih besar kepada pelaku usaha untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
  4. Pemerintah bertekad untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui berbagai kebijakan dan peraturan.

Dampak ekonomi yang diharapkan untuk meningkatkan produksi berbagai komoditas pertanian dan makin kokoh ketahanan pangan nasional, serta makin tinggi pendapatan para pelaku usaha (petani). Dampak sosial yang diharapkan adalah makin tinggi penyerapan tenaga kerja, masyarakat miskin di perdesaan yang semakin menurun, dan laju migrasi penduduk ke perkotaan dapat dikurangi.

9.2. Keputusan Investasi di Sektor Manufaktur

Pertumbuhan investasi manufaktur dipacu oleh berbagai faktor pendukung, yaitu iklim investasi di dalam negeri yang semakin membaik.  Peningkatan investasi diproyeksikan terus meningkat. Pasar Indonesia berpotensi baik karena berpenduduk sekitar 240 juta jiwa adalah daya beli masyarakat yang sedang bertumbuh, terutama didukung oleh jumlah kelas menengah yang terus meningkat. Hal itu telah menambah keunggulan Indonesia sebagai tujuan investasi.

Pemerintah melalui Kemenperin terus mendorong arus masuk investasi ke sektor manufaktur, baik untuk PMA maupun PMDN. Kemenperin mendukung investasi baru yang bernilai tambah, seperti perusahaan asal Taiwan, Foxconn, yang akan membangun pabrik komponen elektronik dan handphone, serta fasilitas perakitannya. Berbagai insentif, seperti tax holiday, ditawarkan untukmemacu investasi di sektor industri berteknologi tinggi.

Kebijakan pemerintah untuk memacu hilirisasi industri berbasis sumber daya alam (SDA) mulai berdampak positif. Hal itu dapat dilihat dari maraknya pengajuan izin investasi di sektor hilir, telah mendorong pertumbuhan investasi di dalam negeri. Pertumbuhan investasi memang terus terjadi karena kebijakan hilirisasi nonmigas yang sudah mulai berjalan di pertambangan yang mulai efektif. Pertumbuhan investasi sektor manufaktur  akan terus berlangsung, selama pemerintah konsisten dengan kebijakannya.

Realisasi investasi sektor industri nonmigas (manufaktur) pada 2014 turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu terjadi seiring dengan sikap wait and see para calon investor pasca pemilihan presiden 2014. Pelemahan realisasi investasi sepanjang semester I 2014 terjadi dikarenakan para investor masih menunggu pemerintahan baru pasca pemilihan presiden 2014 terbentuk.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, realisasi investasi sektor industri manufaktur relatif melambat. Investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor industri manufaktur pada semester I 2014 tercatat sekitar Rp 23,18 triliun atau lebih rendah dibanding realisasi investasi PMDN semester I tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 26,9 triliun. Meski demikian, realisasi investasi sektor industri pada kuartal II mengalami peningkatan sebesar 8,6% menjadi Rp 12,07 triliun dibandingkan kuartal I 2014 sebesar Rp 11,11 triliun. Sementara realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) sektor industri pada semester I 2014 juga hanya tercatat sebesar US$ 6,71 miliar atau lebih rendah dibanding semester I tahun lalu sebesar US$ 8,01 miliar. Sedangkan jika dibandingkan per kuartal, investasi PMA kuartal II 2014 mencapai US$ 3,22 miliar juga sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal I 2014 sebesar US$ 3,49 miliar.

Jila pelaksanaan pemilu berjalan baik, investasi dapat naik signifikan seiring dengan meningkatnya investor. Faktor yang membuat investor wait and see antara lain adalah isu tentang ekonomi biaya tinggi ketidakstabilan politik ekonomi.Sikap wait and see investor dipengaruhi menunggu hasil pemilihan umum kemudian, investor mencermati tren suku bunga (BI rate), neraca perdagangan, serta depresiasi rupiah.

Untuk mendorong realisasi investasi, pemerintah menyediakan berbagai insentif fiskal seperti tax holiday dan tax allowance. Beberapa perusahaan yang menerima tax holiday, yaitu PT Petrokimia Butadiene Indonesia, anak usaha PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), dan PT Unilever Oleochemical Indonesia, perusahaan sister company dari PT UnDever Indonesia Tbk (UNVR). Unilever Oleochemical Indonesia telah memperoleh insentif tax holiday pada akhir 2012 dari rencana perseroan membangun pabrik pengolahan crude kernel palm oil (CKPO) di Sei Mangkei. Pembangunan pabrik Unilever diperkirakan menelan investasi Rp 1,2 triliun. Cabang-cabang industri yang diharapkan tumbuh tinggi antara lain berasal dari industri berbasis minyak dan gas serta sumber daya mineral dan industri berbasis agro.Program prioritas Kemenperin, yaitu pengembangan industri hilir berbasis agro, migas, dan bahan tambang mineral, serta peningkatan daya saing industri berbasis SDM, pasar domesrik, dan ekspor.

Investasi industri manufaktur (pengolahan) di Indonesia mencapai Rp. 160 triliun tahun 2012. Angka tersebut 33% di atas target awal tahun ini sebesar Rp 120 triliun. Hal itu didorong pertumbuhan tinggi investasi alat angkut, makanan dan minuman, serta bahan galian nonlogam.”Sampai akhir 2012, saya yakin investasi pada 12 sektor industri manufaktur mencapai Rp 160 triliun. Ini naik sekitar 60% dibanding pencapaian pada 2011 sebesar Rp 99,92 triliun.

Indonesia menjadi tujuan investasi yang menarik, karena mempunyai pasar yang bagus dengan penduduk mencapai 240 juta. Jumlah kelas menengah juga terus tumbuh hingga September 2012. Realisasi investasi manufaktur sudah sebesar Rp. 115,45 triliun. Investasi ini terdiri atas penanaman modal asing (PMA) US$ 8,59 miliar (Rp 77,34 triliun) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 38,11 triliun. Tambahan kebutuhan sekitar Rp 45 triliun untuk mencapai Rp 160 triliun.

Pertumbuhan industri manufaktur nasional mencapai target 7,1% pada 2012. Perlambatan ekonomi di pasar Eropa dan Amerika Utara berdampak negatif terhadap ekspor hasil industri RI. Industri manufaktur nasional berpotensi tumbuh 8,02% pada 2013.Jika semua hambatan dapat diselesaikan, maka peningkatan investasi sanagt optimism. Ada tambahan investasi baru yang diperkirakan mencapai Rp 45 triliun. Kemenperin merevisi target tahun ini dari Rp 120 triliun menjadi Rp 160 triliun, karena melihat pencapaian hingga kuartal HI-2012 sudah Rp 115 triliun.

Sektor-sektor investasi yang cenderung tumbuh tinggi antara lain adalah industri alat angkut, makanan dan minuman, serta bahan galian nonlogam. Industri manufaktur terutama yang padat karya masih menghadapi berbagai masalah yang menekan pertumbuhan investasi.Kalau Rp 120-125 triliun kemungkinan masih tercapai, tapi untuk target Rp 160 triliun saya rasa sangat berat Kita menghadapi berbagai masalah yang menekan pertumbuhan investasi. Beberapa di antaranya adalah aksi demo buruh kembali marak, penaikan harga gas industri mulai tahun ini, serta rencana penaikan tarif tenaga listrik (ttl) tahun depan. Harga gas industri dinaikkan mulai tahun ini hingga 2013 sebesar 49%, menjadi US$ 10,13 per mile-mile british thermal unit (mmbtu). Sedangkan penaikan TTL tahun depan sebesar 15%, yang dilakukan bertahap.

Akibat aksi-aksi demonstrasi buruh yang cukup menekan, kawasan Jabodetabek dan daerah lain di Jawa Barat kini tidak lagi kondusif untuk berusaha. Sebagian investor asing dan nasional memilih mengalihkan investasi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur yang lebih kondusif.

Iklim Investasi

Pemerintah perlu mengarahkan investasi yang memiliki nilai tambah dan produknya laku diekspor, sehingga investasi bisa mengalir lebih cepat dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia membutuhkan duahal yang dapat mendongkrak peringkat investasi, yakni kepastian hukum dan perbaikan infrastruktur. Jika kedua hal ini baik, investasi berpotensi meningkat hingga 70%, pemerintah harus serius mempermudah dan memperpendek prosedur perizinan di pusat dan daerah. Peraturan-peraturan harus diperbaiki agar tidak terjadi overlapping sehingga menimbulkan high cost.

Sistem infrastruktur dan logistik di dalam negeri harus diperbaiki, sehingga biaya produksi manufaktur bisa ditekan dan harga produk lebih berdaya saing di tingkat global. Selama ini, biaya logistik sangat membebani, mencapai 15% dari ke-seluruhan biaya manufaktur. Para pengusaha berharap biaya tersebut ditekan menjadi 9-10% pada 2015.

Perkembangan investasi industri kulit dan alas kaki kurang bagus, karena investor masih khawatir dengan sistem outsourcing (kontrak kerja alih daya) yang dipermasalahkan buruh. Investor lebih memilih menunda investasi sambil menunggu kepastian hukumnya, terutama menunggu revisi Undang-Undang (UU) No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Selama buruh masih menolak outsoursing, lebih baik investasi ditunda dan menunggu revisi UU No 13.

Dorong Industri Baja

Sementara itu, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi manufaktur di Indonesia mencapai Rp 115,45 triliun periode Januari-September 2012, naik 57% dibanding periode sama tahun lalu. Investasi PMA meningkat 65,85% menjadi US$ 8,59 miliar dan PMDN naik 40,9% menjadi Rp 38,11 triliun. Pada periode tersebut, investor asing terutama berinvestasi pada sek-tor industri kimia dan fermasi senilai US$ 2,47 miliar. Berikutnya adalah industri kendaraan bermotor dan alat transportasi sebesar US$ 1,3 miliar, industri logam, mesin, dan elektronik US$ 1,28 miliar, makanan dan minuman US$ 1,14 miliar, serta industri kertas dan percetakan US$ 1,06 miliar.

Sedangkan investor lokal lebih banyak berinvestasi pada sektor industri mineral nonlogam sebesar Rp 9,08 triliun. Sedangkan investasi makanan dan minuman sebesar Rp 7,17 triliun, industri logam, mesin, dan elektronik Rp 5,83 triliun, industri kertas dan percetakan Rp 4,99 triliun, serta industri kimia dan farmasi Rp 4,21 triliun. Diperkirakan, peningkatan investasi sangat signifikan terjadi pada industri pertambangan. Industrialis asing memburu pasar di Indonesia karena jumlah kelas menengahnya meningkat. Hal ini terlihat dari meningkatnya impor barang modal dan bahan baku, yang akan diolah dan dipasarkan di dalam negeri.

Jika diolah di dalam negeri, kemudian diekspor produknya komponen asing dan dijual di dalam negeri, artinya industri dan investasi dikuasi asing. Direktur Eksekutif The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Edward Pinem mengatakan, investasi industri logam berkurang, bahkan hampir tidak ada investasi baru. Tahun 2011 investasi Krakatau Steel-Posco US$ 3 miliar. Investasi industri logam, mesin, dan elektronik tahun ini lebih banyak mengalir ke sektor mesin, terutama karena mendukung industri otomotif yang tumbuh pesat. Iklim usaha sektor industri elektronik juga lebih menguntungkan.

Sedangkan industri logam menghadapi tantangan cukup berat, karena kebijakan pemerintah yang kurang mendukung. Ini antara lain dikarenakan bahan baku besi bekas (scrap) masih terganjal peraturan, karena dianggap limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Padahal, industri hilir sektor logam harus mengimpor sekitar 90% bahan bakunya yang berupa scrap. la pun menyarankan pemerintah terus mendorong pengembangan industri besi dan baja hulu. Industri pertambangan harus didorong untuk mengembangkan pabrik olahan tambang mentah (smelter). Kalau industri hulunya bagus, akan memiliki sumber bahan baku untuk industri hilirnya. Kalau ini terjadi, investasi industri hilir logam akan berkembang pesat.

9.3. Keputusan Investasi Sektor Konstruksi

Beberapa catatan tentang investasi di sektor konstruksi sebagai berikut:

  • Sektor konstruksi di Indonesia tumbuh 7-8 persen per tahun.
  • Pasar konstruksi di Indonesia mencapai US $ 49,2 miliar pada tahun 2014.
  • Pada tahun 2012, sektor konstruksi memberikan kontribusi 10 persen terhadap PDB.
  • Pendapatan per kapita per tahun konsumsi semen di Indonesia sekitar 200 kilogram.
  • Indonesia diidentifikasi sebagai negara Asia atas pertumbuhan pasar konstruksi.

Sektor konstruksi dan bangunan mengalami kenaikan nilai sebesar 7-8 persen. Salah satu penyebabadalah tingginya permintaan untuk perumahan dan pertumbuhan properti di beberapa kota besar. Perusahaan konstruksi asing telah masuk ke Indonesia selama beberapa tahun yang terdaftar di Indonesia adalah 128.Sebagian besar berasal dari Jepang. Jumlah perusahaan konsultan yang terdaftar di Indonesia adalah 78, dan jumlah kontraktor EPC adalah 23. Pada tahun 2012, 5 kontraktor dari India juga masuk ke Indonesia.

Menurut data dari Asosiasi Konstruksi Indonesia (AKI) pada semester pertama tahun 2011 melihat pertumbuhan 6,4 persen. Sektor swasta berkembang hingga 65 persen dari semua proyek konstruksi. Tahun lalu misalnya Pemerintah merencanakan pembangunan lebih dari 4000 kilometer jalan, 150 kilometer dari jalur rel dan 14 bandara, semua bagian dari program pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan transportasi dan logistik hubungan di seluruh negeri.

Menurut publikasi Asia Construction Outlook, Indonesia berada di urutan teratas sebagai negara potensial dalam hal pertumbuhan belanja konstruksi jangka menengah. Sektor konstruksi diperkirakan tumbuh sekitar 5,2% per tahun pada periode 2014-2019, berada di atas rata-rata regional 4,4 persen. Bahkan, publikasi telah mengidentifikasi Indonesia sebagai pasar konstruksi yang paling menguntungkan kedua di Asia. Negara ini juga memiliki pasar yang semakin terbuka dan menarik untuk investasi.

Konstruksi dan Bangunan

Penjualan semen Indonesia diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 95-97 juta ton pada tahun 2017. Sementara kapasitas produksi dalam negeri diperkirakan mencapai 90-95 juta ton pada tahun yang sama. Kapasitas produksi pada tahun 2014 adalah 68 juta ton per tahun. Oleh karena itu, produsen semen Indonesia perlu meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan semen di masa mendatang.

Semen Indonesia, produsen semen terbesar di Indonesia, berencana untuk membangun pabrik semen baru di Padang dan Rembang dalam upaya untuk menambah total 6 juta ton semen per tahun dengan angka kapasitas produksi saat ini sebesar 30 juta ton per tahun. Total investasi untuk dua tanaman ini adalah sekitar Rp 7 triliun (USD $ 598.000.000). Sementara itu, Indocement Tunggal Prakarsa, produsen semen terbesar kedua di Indonesia, berencana untuk berinvestasi USD $ 1,2 milyar untuk pembangunan dua pabrik baru di Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Ini harus meningkatkan total kapasitas desain terpasang Indocement dari 18,6 juta ton semen pada 2014 menjadi sekitar 24 juta ton pada tahun 2018.

Asia Construction Outlook mencatat bahwa 2013 pengeluaran konstruksi di Indonesia mencapai US $ 247 miliar. Di bawah pembangunan ekonomi master plan baru (MP3EI) 2011-2025, Pemerintah Indonesia memperkirakan hampir US $ 181.800.000.000 dari investasi infrastruktur akan mendorong pertumbuhan ekonomi di bawah enam koridor ekonomi baru di seluruh nusantara. proyek infrastruktur utama meliputi:

  1. Jalan Tol Trans-Sumatra
  2. Jalan Tol Cibitung-Cilincing
  3. Halim-SoekarnoHatta Kereta Ekspres
  4. Trans-Sulawesi Kereta
  5. Sepuluh (10) Bandara Baru
  6. Pelabuhan Kali Baru, Pelabuhan Bitung, dan Pelabuhan Cimalaya.

Semuanya ini merupakan proyek-proyek baru, bersama dengan meningkatnya aktivitas sektor swasta, dengan menitikberatkan pada pasokan bahan bangunan di Indonesia, yang memiliki fungsi dalam meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan pembangun lokal.Dalam jangka waktu dekat dan menengah, survei memprediksi bahwa pertumbuhan belanja konstruksi terbesar dalam suatu daerah akan berada di Indonesia dan China.

Kinerja emiten di sektor konstruksi terus membaik. Ke depan, kinerja emiten konstruksi masih bisa melesat sejalan dengan langkah pemerintah menaikkan anggaran belanja di sektor infrastruktur.Raphon Prima, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, mengatakan, kinerja emiten di sektor konstruksi memperlihatkan pertumbuhan yang memuaskan. “Growth cukup luar biasa, baik dari sisi revenue maupun net profit, (KONTAN, Jumat (18/8). Raphon memberi contoh PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang meraih pertumbuhan pendapatan 76,7% dan laba bersih 90,7% di kuartal II-2017. Emiten ini bisa mencetak kinerja oke lantaran sukses meraih kontrak-kontrak baru dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut didukung oleh gencarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.

Dalam APBN perubahan, defisit anggaran membengkak menjadi 2,92%. Hal tersebut dikhawatirkan bisa menghambat pemerintah dalam mengeksekusi berbagai rencana pembangunan infrastruktur. Penerimaan negara dalam lelang surat utang negara terbilang tinggi. Ini mengindikasikan kinerja emiten sektor konstruksi bisa tetap membaik pada 2018. Kontrak-kontrak baru di sektor konstruksi lebih baik dibandingkan pada 2017.

Standard & Poor’s (S&P) mengumumkan kenaikan peringkat Indonesia menjadi investment grade, pemerintah juga lebih mudah memperoleh pendanaan dari eksternal. Terkait Moody’s Investor mendukung rencana pemangkasan defisit APBN dengan meningkatkan penerimaan pajak yang lebih tinggi. Pemangkasan defisit fiskal menjadi 2,2% dari produk domestik bruto (PDB) dapat mendorong pertumbuhan menjadi 5,4% pada 2018. Sementara, penerimaan pajak ditargetkan naik sebesar 9,3%. Jika target tersebut tercapai maka belanja pemerintah pada sektor infrastruktur berpotensi naik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor di pekan lalu. Kondisi tersebut membuat harga saham beberapa emiten juga ikut terdorong dan harganya menjadi terlalu mahal. Meski begitu, analis menilai masih ada beberapa saham harga murah yang layak dijadikan perhatian. Sektor konstruksi masih menarik diperhatikan investor. Saham-saham di sektor ini tergolong undervalued karena memiliki kinerja yang bagus namun belum bergerak naik.

Saham-saham seperti PTPP, WIKA, dan ADHI masih memiliki potensi untuk naik dalam jangka panjang. Hal ini didorong oleh upaya pemerintah yang terus meningkatkan pembangunan proyek infrastruktur. Pemerintah telah memberi stimulus sektor konstruksi. Oleh karena itu para investor menjadikan saham tersebut sebagai alternatif investasi jangka panjang. Saham di sektor properti juga menarik  dengan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 4,5% sehingga memberikan potensi untuk tumbuh. Saham properti untuk bisa memiliki prospek yang baik di 2018 hingga 2019.Saham-saham properti bisa naik lagi karena didukung stimulus bunga kredit, mulai dibangunnya proyek properti besar, dan hadir beberapa proyek infrastruktur di beberapa wilayah dekat properti.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat dua perusahaan yang bergerak di sektor konstruksi asal Jepang menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia senilai Rp. 4 triliun. BKPM berharap minat investasi ini bisa sgera direalisasikan karena berkaitan dengan target investasi di 2016.Investor Jepang yang berminat tersebut terdiri dari dua perusahaan di bidang konstruksi dengan nilai investasi mencapai Rp. 3,5 triliun serta di bidang usaha depo bangunan dengan rencana investasi senilai Rp. 500 miliar.

Kepala BKPM Franky Sibarani menyampaikan bahwa dua perusahaan tersebut terbilang serius untuk berinvestasi, karena telah siap untuk joint venture dengan mitra lokal yang dipilihnya. Perusahaan rencananya akan mengikuti dua proyek infrastruktur yang ada di Indonesia senilai Rp. 2,5 triliun.Perusahaan juga merencanakan untuk membangun apartemen di wilayah Jabodetabek dengan nilai investasi mencapai Rp. 1 triliun. Perusahaan konstruksi yang terkait dengan perusahaan yang bergerak di bidang home improvement menyatakan ingin membangun sebuah depo bangunan yang menyediakan peralatan bangunan untuk distributor kontruksi. Untuk usahanya tersebut, perusahaan membutuhkan lahan seluas 2.000 meter persegi dengan rencana investasi Rp. 500 miliar.

Perusahaan home improvement, berencana membangun depo bangunan dengan luas lahan 2.000 meter persegi sesuai dengan ketentuan DNI. Mereka serius untuk investasi di Indonesia, terutama setelah mengetahui adanya sistem PTSP online.Para investor melihat Indonesia sebagai pasar potensial, terlebih dengan adanya Masyarat Ekonomi ASEAN, memberikan peluang bisnis yang begitu besar bagi para investor. b

Hardiwinoto Muchtar

Hardiwinoto adalah seorang peneliti ekonomi, dosen, kolomnis, dan pegiat sosial. Kegiatan yang dilakukan terkait dengan koleksi buku-buku ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sastra dan sejarah.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *