Indonesia Dalam Lakon Bagong Dadi Ratu

http://hardiwinoto.com

Drupadi hilang dari kedaton. Amarto dalam kesedihan yang mendalam. Langit Amarto peteng dedet. Burung pun enggan berkicau melihat prabu Yudistira bersedih kehilangan kekasihnya, permaisurinya, dan tak tahu ke mana mencarinya. Dalam kesenyapan, Wrekudara dan Arjuna merasa bertanggungjawab untuk mencari dan membawa pulang Drupati. Kedua Satriya berkonsultasi kepada sang guru Durna. Durna berpesan bahwa Drupadi dapat ditemukan dengan tumbal matine salah satu Punakawan. Dengan pertimbangan tertentu diputuskan Bagong yang harus mati. Bagong dianggap tidak banyak berperan sebagai sang Pamomong. Perannya hanya melucu, membanyol, atau membuat tertawa.

Wrekudara dan Arjuna langsung ke Karang Kadempel, tempat tinggal Punakawan. Arjuna menceritakan kepada Semar tentang kondisi Amarta yang sedang berkabung kehilangan Drupadi. Sedangkan untuk mendapatkan kembali Bagong harus menjadi tumbal. Arjuna berkata bahwa hal tersebut atas nasehat Durna. Semar pun langsung menyuruh Bagong untuk menyembunyikan diri. Bagong bablas mlayu mencari keselamatan. Bagong dioyak Arjuna sampai jatuh ke jurang. Wrekudara dan Arjuna yakin bahwa Bagong sudah mati, sehingga bisa menjadi sarana ditemukannya Drupadi.

Di dasar jurang Bagong ditemui Bathara Narada. Narada berpesan kepada Bagong, supaya selalu berjalan ke arah barat. Jika ketemu raja yang sedang berkelana, supaya dapat dikalahkan dan gantikan tahtanya. Bagong diberi ajian kalung mustika oleh Narada. Dalam perjalanan ke arah barat ketemu raja bernama Kala Sereng yangsedang melakukan laku mandi tujuh tlaga dibawah bukit untuk dapat memperistri Drupadi yang sedang disembunyikan. Terjadilah perang sengit antara Bagong dan Kala Sereng. Bagong mampu mengalahkan Kala Sereng. Bagong pun menjadi ratu dengan jejuluk Prabu Pathakal Baworsari.

Prabu Pathakal akan memperistri Drupadi. Namun sebelum memperistri Drupadi, ia ingin memperistri pula Dewi Arjuna dan Dewi Wrekudara terlebih dahulu. Prabu Pathakal menyuruh patihnya untuk melamar Dewi Arjuna dan Dewi Wrekudara ke Amarta. Prabu Pathakal mengikuti patihnya bersama Drupadi. Supaya Drupadi tidak kelihatan, dimasukkannya ke dalam Akik Cupu Maniknya.

Arjuna dan Wrekudara marah karena dianggap perempuan. Amarta geger, Prabu Pathakal mencak-mencak. Arjuna dan Wrekudara tak mampu mengalahkan. Arjuna dan Wrekudara wadul (lapor) minta cara untuk bisa mengalahkan Prabu Pathakal kepada Prabu Krisna. “Yang bisa mengalahkan Prabu Pathakal adalah Gareng” kata Prabu Krisna. Terjadilah pertarungan antara Gareng dan Prabu Pathakal. Akhirnya Prabu Pathakal dapat dikalahkan Gareng, sehingga dapat kembali kepada wujud aslinya yaitu Bagong. Disitulah Drupadi dikeluarkan dari Cupu Maniknya. Dan Arjuna meminta maaf kepada Bagong. Drupadi dikembalikan kepada Yudistira masih utuh sebagaimana aslinya.

***

Bagaimana di Indonesia kini? Jika kata Drupadi diganti kata APBN atau aset negara dan Amarto di ganti kata Indonesia maka akan ada cerita berikut. APBN atau aset-aset milik bangsa Indonesia hilang dikorupsi. Indonesia dalam kegelapan yang mendalam, peteng dedet berkabut kasus korupsi. Burung pun enggan bernyanyi prihatin melihat Indonesia kehilangan aset-asetnya, dan tak tahu ke mana mencarinya. Para pemegang wewenang atau pihak yang bertanggungjawab untuk mengembalikan aset-aset bangsa Indonesia salah dalam memilih cara penumpasan korupsi.

Para penentu kebijakan salah dalam merekomendasikan metode penangkapannya. Durna sebagai konsultan penangkapan pencuri APBN salah memberi cara. Metode pengembalian APBN dengan biaya tinggi yaitu dengan harus mengorbankan Bagong. Padahal ia adalah bagian dari Sang Pamomong penjaga nilai moral, agama atau spiritual. Sebuah gambaran bahwa moral bangsa telah dirusak, disengaja untuk dimatikan perannya supaya tidak banyak bicara. Bagong adalah tokoh yang paling tajam kritiknya. Ibarat media massa adalah yang paling berani menyiarkan kasus-kasus korupsi. Maka harus dimatikan. Itulah makna kenapa Durna merekomendasikan bahwa Bagong harus dijadikan tumbal.

Sudah barang tentu perlu ada yang dikorbankan. Bahkan biaya pencarian akan lebih besar dari aset yang harus dikembalikan. Negara berkurban untuk mendirikan institusi pemberantas korupsi, membangun peradilan korupsi, menyusun regulasi, dan menerjunkan para tukang negosiasi. Kenapa begitu mahal untuk memberantas korupsi? Karena pelaku korupsi adalah para petinggi dengan mekanisme kolusi. Terkadang tindakan korupsi terlindungi oleh konstitusi dan regulasi. Sama-sama perbuatan maling tetapi konstitusi dan regulasi tidak boleh mengatakan korupsi sama dengan maling.

Bagong dianggap bodoh dan tak diperhitungkan dalam jajaran Sang Pamomong, tetapi ia paling paling berani bicara blak-blakan. Bagong ternyata yang mampu memberanbtas korupsi. Bogong mampu menemukan di mana APBN dikorupsi, oleh siapa, kemudian dikembalikan ke kas negara. Itu karena Bagong mendapatkan konsultan yang benar dan diberi metode yaitu Bathara Narada. Supaya selalu berjalan ke arah yang benar sampai bisa mengalahkan sang koruptor yaitu Kala Sereng. Di saat Kala Sereng sedang menghitung-hitung hasil korupsinya dan bagaimana menyimpan dan menikmatinya, Bagong dapat mengalahkan koruptor. Dengan mengalahkan Kala Sereng tersebut Bagong menjadi ratu.

Prabu Pathakal menyuruh patihnya untuk melamar Dewi Arjuna dan Dewi Wrekudara mengandung arti bahwa satriya jika tak mampu memberantas korupsi sama saja kehilangan kesatiyaannya. Dewi Arjuna dan Dewi Wrekudara sebutan sebagai satriya wirang yaitu penegak hukum tetapi tak mampu memberantas korupsi. Arjuna dan Wrekudara tak mampu mengalahkan Prabu Pathakal meskipun kedua satriya tersebut adalah wayang paling sakti di Amarta.

Pesan yang bisa diambil. Meskipun hanya sekedar bagong pantas jadi prabu karena mampu mengalahkan koruptor. Bukan malahan jika bergelar prabu justru menjadi koruptor.

Hardiwinoto, 2019, Stabilitas, Ed 151 Januari-Februari 2019

Hardiwinoto Muchtar

Hardiwinoto adalah seorang peneliti ekonomi, dosen, kolomnis, dan pegiat sosial. Kegiatan yang dilakukan terkait dengan koleksi buku-buku ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sastra dan sejarah.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *