Thorik bin Ziyad, Julius Caesar, dan Kedaulatan Ekonomi

Thorik bin Ziyad, Julius Caesar, dan Kedaulatan Ekonomi

93
0
SHARE
kadaulatan ekonomi

http://http//www.hardiwinoto.com

http://www.stabilitas.co.id

Thorik bin Ziyad dan pasukannya telah menaklukkan Spanyol di tahun 711 M. Thorik dan seluruh pasukan pada armada kapal yang membelah lautan antar benua Afrika dan Eropa telah mendarat. Thoriq mengumpulkan seluruh anggota pasukannya di bukit “Gibraltar” (Jabal Thoriq atau Bukit Thoriq) lalu menyuruh membakar semua kapalnya dan berkata.
“Wahai seluruh pasukan, ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian laut, dan di depan kalian adalah musuh. Demi Allah, satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Musuh dengan jumlah besar dan persenjataan lengkap telah menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Pilihan kita hanya menang atau mati syahid”.
Thoriq bin Ziyad melakukan strategi perang yang tidak umum. Cara tersebut dipilih agar pasukannya tidak mundur dari medan perang. Thariq bin Ziyad berasumsi bahwa tidak ada pilihan lain bagi pasukannya, tenggelam di laut atau mati di medan perang. Iqbal, sang penyair Persia, menggubah syair berjudul ”Piyami Mashriq”. Dalam syair ia katakan, “Tatkala Tariq membakar kapal-kapalnya di pantai Andalusia (Spanyol), Prajurit-prajurit mengatakan, ini tindakan yang tidak bijaksana, bagaimana kami bisa kembali ke kampung halaman. Mendengar demikian, Tariq menghunus pedang, dan berkata “setiap negeri kepunyaan Allah adalah kampung halaman kita”.
Tariq bin Ziyad membagi pasukan menjadi empat kelompok. Mereka ke Kordoba, Malaga, Granada, dan pasukan utama ke Toledo, ibu Kota Spanyol. Semua kota menyerah tanpa perlawanan berarti. Rakyat Spanyol yang sekian lama tertekan akibat penjajahan bangsa Gotik di bawah raja Roderick yang dzalim mengelu-elukan Tariq bin Ziyad. Ia sangat diidolakan oleh bangsa-bangsa yang ditaklukkannya. Karena Tariq bin Ziyad sebenarnya memerdekakan rakyat dari penguasanya yang dzalim.
***
Kisah lain yang mirip adalah ketika Julius Caesar, komandan perang yang berhasil merebut pantai Britania juga memiliki strategi unik. Ketika Caesar berhasil mendaratkan pasukannya pada tengah malam yang dingin, sang komandan berdiam sejenak, sementara itu pasukannya sibuk merapatkan dan menyembunyikan perahu-perahu yang sudah mereka tumpangi. Mereka berpikir, setelah pertempuran selesai akan kembali ke kapal induk menggunakan perahu tersebut. Namun, mereka kaget. Caesar memerintahkan, “Bakar semua perahu yang sudah kamu daratkan”. Akhirnya, semua pasukan bertempur habis-habisan. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk mundur.
***
Kisah Thariq bin Ziyad dan Julius Caesar sama dengan ilustrasi tentang seseorang yang menyeberang jembatan gantung. Begitu ia sampai di seberang, ia lalu mengambil api dan membakar jembatan tersebut sehingga sekalipun ia berhadapan dengan binatang buas atau apa pun yang membahayakan, ia tidak akan kembali tetapi terus menghadapinya.
Mampukah bangsa Indonesia mengambil pelajaran dari kisah Thariq bin Ziyad dan Julius Caesar dalam hal memerdekakan ekonomi atau mengembalikan kedaulatan ekonomi yang telah direbut bangsa lain? Memang untuk merebut tidak perlu menyeberangi lautan, tidak perlu menaklukkan pasukan bersenjata, atau tidak perlu membakar kapal secara fisik. Tetapi bagaimana menyeberangi lautan ketakutan dan membakar kapal kenyamanan hutang dan ketergantungan dengan bangsa lain.
Ada pameo dalam khazanah kehidupan “Pelaut ulung tidak akan lahir di laut yang tenang”. “Orang-orang yang hebat tidak akan lahir dari sebuah situasi tanpa tantangan dan cobaan”. Kita pun tidak perlu silau dengan kesuksesan masa lalu, karena kesuksesan masa lalu belum tentu terjadi saat ini jika tidak dijaga dengan benar, sebagaimana kisah Thoriq bin Ziyad tak terlena mengagumi kebesaran dan kemegahan kapal-kapal yang menyeberangkan mereka. Jika “kapal tidak segera kita bakar”, kita akan berpikir “Ah bila kita terdesak, kita bisa kembali ke kapal dan pulang”. Seberat apapun problema, persaingan, dan tantangan yang ada harus kita hadapi.
Perjalanan menuju sukses sering menghadapi kesulitan sehingga membuat kita untuk kembali atau mundur. Hal juga membuat mengalami stagnasi dalam meraih kesuksesan. Takut tidak berhasil atau takut diolok-olok orang lain. Daya tarik untuk kembali atau mundur bisa saja digoda oleh pikiran, nostalgia indah di tempat asal, dan fasilitas yang memudahkan untuk kembali. Daya tarik yang membuat nyali kita menciut menghadapi tantangan di depan mata.
***
Iktibar yang bisa kita dapatkan dalam mengarungi ekonomi nasional adalah jika ingin memenangkan persaingan hendaknya tidak lari nasionalisme ekonomi yang kita junjung tinggi. Satu sisi bangsa kita hutangnya sangat besar, tetapi sisi lain lahan ekonomi kita dikuasai orang lain dengan dalih investasi asing dan arus modal masuk. Padahal sejatinya adalah ketergantungan modal dan investasi. Dengan dalih terjadi alih teknologi dan alih manajemen serta menyerap tenaga kerja, namun sejatinya adalah perpanjangan kontrak karya yang tak kunjung selesai, dan perluasan penguasaan faktor produksi bangsa kita oleh bangsa lain. Mengambil alih kembali tak usah menyeberangi lautan dan usah menaiki kapal. Karena kita sudah kalah di negeri sendiri.
Kapal itu berupa kenyamanan dengan hutang yang besar. Kapal itu berupa kanyamanan ketergantungan impor. Kapal itu adalah rasa nikmat dengan upeti kecil dari penyewaan faktor produksi milik bangsa dieksplorasi asing. Kapal itu adalah kenyamanan dengan kekayaan alam yang besar dengan wilayah yang luas. Ibarat kapal Thariq bi Ziyad atau perahu perahu Julius Caesar. Beranikah bangsa Indonesia membakar itu semua. Bertempur hebat untuk menegakkan kedaulatan ekonomi kita.
Atau kita salah menerjemahkan makna NKRI harga mati. Kita tersesat dalam pemahaman NKRI hanya sebatas teritorial yang terdiri dari gugusan pulau pulau. Kita lupa bahwa NKRI adalah kandungan di dalamnya. NKRI adalah kadaulatan ekonomi, yaitu penguasaan kesempatan semua kandungan NKRI untuk mencapai kemakmuran bangsanya. Mari “bakar kapal” kita. Mari “bakar jembatan” kita. Mari “bakar” segala sesuatu yang membuat kita ingin mundur kembali atau surut untuk maju. Merebut kembali kedaulatan ekonomi yang pernah kita miliki.

Hardiwinoto. 2018. Tharik, Caesar, dan Kedaultan Ekonomi. Stabilitas. 147. Sept-Okt 2018

LEAVE A REPLY