The Last Samurai, Diponegoro, dan Indonesia Kini

The Last Samurai, Diponegoro, dan Indonesia Kini

186
0
SHARE
samurai

http://hardiwinoto.com

Kolonel Bagley meminta Kapten Nathan Algren untuk ikut melatih Angkatan Darat Kekaisaran Jepang yang baru dibentuk untuk pengusaha Jepang. Meskipun membenci Bagley atas perannya perang melawan suku Indian, Nathan menerima pekerjaan demi uang. Nathan mengetahui bahwa tentara Kekaisaran adalah wajib militer yang tidak memiliki pengetahuan tentang pertempuran dengan menggunakan senjata api.
Omura berniat menggunakan tentara Kekaisaran untuk menekan Samurai. Nathan diberitahu bahwa Samurai menyerang salah satu jalur kereta api Omura. Nathan keberatan Omura mengirim tentara ke sana. Zebulon dibunuh dan Nathan bertarung berharap untuk mati, namun pemimpin Samurai Katsumoto memutuskan untuk menyelamatkan Nathan. Ia dibawa ke desa putra Katsumoto untuk tinggal bersama keluarganya. Meskipun awalnya Nathan diperlakukan buruk oleh para Samurai, akhirnya berteman dengan Katsumoto.
Suatu malam, ketika warga desa sedang menonton pertunjukkan kabuki, sekelompok Ninja menyusup ke desa dan berusaha membunuh Katsumoto. Nathan menyelamatkan Katsumoto dan membantu mempertahankan desa bersama para Samurai. Nathan pun menjalin kisah cinta pada Taka, adik Katsumoto dan janda seorang Samurai yang dibunuh oleh Nathan.
Katsumoto meminta pertemuan dengan Kaisar Meiji dan diberikan perjalanan yang aman ke Tokyo. Ia membawa Nathan dan berniat untuk melepaskannya. Setelah tiba di Tokyo, Nathan bertemu dengan tentara Kekaisaran, yang sekarang merupakan pasukan tempur yang terlatih dan lengkap. Katsumoto, sangat kecewa bahwa Kaisar menjadi boneka Omura.
Nathan menolak tawaran Omura untuk memimpin pasukan baru untuk menumpas para Samurai yang dianggap memberontak. Lalu Omura mengirim pembunuh untuk membunuh Nathan. Sebaliknya Nathan membantu para Samurai untuk membebaskan Katsumoto dari tentara Kekaisaran.
Ketika tentara Kekaisaran berbaris untuk menghancurkan para Samurai, Katsumoto sedang berduka merenungkan ‘Seppuku’ (Harakiri). Nathan meyakinkan untuk berjuang dan bergabung dengan para Samurai dalam pertempuran. Katsumoto memerintahkan penyerangan bunuh diri dengan menunggang kuda. Selama serangan, para Samurai menerobos barisan tentara Bagley. Kapten tentara Kekaisaran yang sebelumnya dilatih oleh Nathan ngeri melihat para Samurai sekarat. Ia memerintahkan untuk menghentikan penyerangan dan mengabaikan perintah Omura.
Kaisar menyadari bahwa Jepang melakukan modernisasi dan tetap bekerja sama dengan negara lain tanpa perlu melupakan budaya dan sejarah sendiri. Kaisar menolak tawaran perdagangan dengan Omura. Kaisar memilih untuk menyita aset keluarga Omura dan memberikan kepada orang miskin. Jepang yang mulai terpengaruh westernisasi dengan ditandai akselerasi modernitas dan industrialisasi pada sisi kehidupan masyarakat. Samurai mendapatkan penghormatan sebagai penjaga nilai-nilai luhur. Katsumoto Mitsugiri memegang teguh Bushido Ways rela berkorban demi Negara, Kerajaan, dan Kaisar. Ia memegang kode etik yang setia dijalankan harus melaksanakan ‘Seppuku’ (Harakiri).
***
Apa yang dapat diperhatikan? Posisi Kaisar sebagai pimpinan Negara terlalu jauh dengan rakyatnya. Kaisar kalah pengaruh dari Omura sang penasehat ekonomi. Artinya negara kalah dengan kapitalis. Hal tersebut tergambarkan sebuah proses tansisi, reformasi atau pembaharuan lewat cara-cara westernisasi, kapitalisasi, dan industrialisasi, Samurai sebagai penasehat moral terabaikan. Kaisar mestinya menerima nasehat Samurai, namun kondisi dan posisinya terus terdesak oleh paham, materialisme, sekulerisme, dan lainnya yang ditunjukkan oleh Omura selaku penasehat industrialisasi dengan alasan aturan undang-undang. Katsumoto tidak diperbolehkan untuk ikut serta dalam sidang pertemuan untuk memberikan pendapat karena terkait senjata yang dibawa Samurai sebagai ciri khas. Katsumoto dituduh memimpin pemberontakan, padahal ingin melindungi Kaisar.
Algren tahu budaya Jepang yang sesungguhnya. Kata-kata monolog menarik dari Algren saat berada di kehidupan Samurai, “Aku terus tinggal di antara kelompok aneh. Aku tawanan mereka, maka aku tidak bisa kabur. Mereka kelompok yang sangat menariki, sejak mereka bangun mereka mengabdikan diri demi kesempurnaan pekerjaan mereka. Aku tak pernah melihat kedisiplinan sebesar itu. Aku terkejut saat mengetahui kata “Samurai” itu berarti melayani dan Katsumoto yakin ia memberontak demi melayani Kaisar.”
***
Kisah demikian mirip tentang bagaimana Diponegoro ketika menolak keinginan Belanda (VOC) yang ingin menguasai aset-aset kerajaan Mataram. Diponegoro dikatakan pemberontak dan gagal menjadi raja. Diponegoro pun akhirnya mengasingkan diri ke goa Selarong. Hal demikian juga mirip dengan lakon wayang Semar membangun Kahyangan. Semar ingin memperbaiki tatanan para dewa karena dinilai tidak adil dalam memutuskan perkara juga dianggap pemberontak. Akhirnya terjadi perang saudara dalam wayang.
Bagaimana dengan Indonesia kini? Adanya ketidak nyamanan cerdik pandai garis lurus. Jangan-jangan jika ingin menunjukkan data, karena data tersebut berselisih dengan penguasa lalu dikasih cap oposisi. Kini ada istilah kriminalisasi ilmuan atau ulama. Keberanian berpendapat karena berpeda sudut pandang bisa dianggap anti Pancasila dan NKRI atau pemecahbelah bangsa.
Kini kita perhatikan penasehat penguasa lebih banyak pada bagaimana mengkapitalisasikan daripada mendistribusikan, lebih menerima nasehat privatisasi daripada menerima menasionalisasi. Akankah Indonesia mendatang menjadi negara swasta, bahwa negara menjadi milik kapitalis daripada milik masyarakat. Negara sekedar menjadi agen swasta daripada menjadi agen rakyat. Dewan perwakilan rakyat menjadi dewan perwakilan konglomerat.
Kini Indonesia memeringati kemerdekaannya. Sudah lupakah bahwa pesan proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah pemindahan kekuasaan ke tangan ibu pertiwi, bukan malah melakukan privatisasi dan atau swastanisasi kepemilikian aset-aset bangsa.

(Hardiwinoto, 24 Juli 2018)

Hardiwinoto. 2018. Stabilitas. Edisi Juli Agustus

LEAVE A REPLY