Salah Asumsi

Salah Asumsi

199
0
SHARE
kolom salah asumsi
stabilitas februari - maret 2017

Hardiwinoto-com-Perlu saya hadirkan ilustrasi tentang dialog Paku Buwono IV atau sering disebut Pangeran Samber Nyawa dengan Rangga Warsita (cendekiawan, peneliti) waktu itu,tentang bagaimana mengubah kehidupan ekonomi si Taruna, sehingga tidak hidup dalam kemiskinan. Skenario penyelesaian dilakukan secara alami, tidak secara pragmatis.

Si Taruna adalah penjaga regol istana raja yang sangat rajin bekerja. Ia tidak pernah membolos kerja, bahkan seing mengganti teman kerja yang kebetulan tidak berangkat. Taruna sangat sopan. Namun kondisi ekonomi keluarganya memprihatinkan. Raja ingin si Taruna dapat hidup makmur. Raja berkonsultasi kepada Ki Ronggo sang Penasehat. “Bagaimana supaya Taruna bisa hidup layak, Ki Ronggo?” Ki Ronggo menasehati supaya Raja memberi hadiah. Lalu Taruna dipanggil untuk datang ke ruang pertemuan. Taruna datang sejak pagi, sedang sang Raja tak kunjung datang sampai tengah siang. Setelah sang Raja datang, Taruna diberi hadiah sebuah semangka. Taruna pulang dengan hati sangat kecewa. Ia bergumam, “kenapa hanya sebuah semangka, aku harus menunggu lama”. Lalu Taruna memberikan semangka tersebut pada temannya.

Esok hari, Sang Raja belum mendengar ada perubahan bagi Taruna. Padahal semangka yang dia hadiahkan berisi emas. Taruna tetap rajin bekerja. Ia tetap tidak pernah membolos. Namun taraf hidupnya masih belum layak. Raja berkonsultasi kepada Ki Ronggo sebagai penasehat. Bagaimana supaya Taruna bisa hidup lebih layak. Ki Ronggo menasehati supaya Raja memberi pekerjaan memelihara kuda. Lalu dipanggil Taruna untuk diberi pikulan. Di depan Raja, Taruna menerima pikulan tersebut. Diperjalanan pulang, Taruna sangat kecewa, kenapa aku dipindah kerja dan hanya dikasih pikulan. Lalu diberikan pikulan tersebut pada temannya.

Esok hari, Sang Raja belum mendengar kalau Taruna sudah menjadi pemimpin kadang kuda. Padahal pikulan yang diberikan oleh Sang Raja sebagai tanda menjadi ketua kandang kuda. Taruna Tetap rajin bekerja. Ia tetap tidak pernah membolos. Tapi ia tetap miskin. Raja berkonsultasi kepada Ki Ronggo sebagai Penasehat. Bagaimana supaya Taruna bias hidup lebih layak. Ki Ronggo menasehati Sang Raja, Taruna supaya mengantarkan surat kepada sang Adipati. Lalu dipanggil Taruna untuk mengantarkan surat kepada sang Adipati. Di depan raja, Taruna menerima pekerjaan baru. Diperjalanan mengantar surat, Taruna sangat kecewa, kenapa aku malah dijadikan kurir. Lalu diberikan surat tersebut pada temannya untuk diantarkan kepada sang Adipati.

Esok hari, Sang Raja belum mendengar kalau Taruna berubah kedudukan. Padahal surat tersebut berisi pengangkatan menjadi lurah bagi pengantar surat tersebut.

***

Dialog antara Samber Nyawa dengan Ki Ageng Ronggo Warsito di atas memberikan pelajaran tentang tidak mau memberikan metode secara pragmatis. Tetapi melalui metodologi spiritual, dan natural. Memberikan pelajaran tentang bagaimana berprasangkan dan berasumsi.

Taruna secara syari’ah sudah benar, yaitu secara dhohir rajin bekerja dan memenuhi standar operasional pekerjaan yang baik sehingga memunculkan simpati sang Raja padanya. Kenapa selamanya hanya menjadi penjaga regol? Mengapa semangka dan menjadi pengelola kandang kuda bahkan menjadi lurah tidak mampu di raihnya.

***

Taruna adalah gambaran umum masyarakat Indonesia. Tidak berani berubah karena salah dalam mengasumsikan apa yang terjadi dalam setiap menemukan peluang. Atau bahwa Taruna adalah gambaran bangsa Indonesia yang tidak memiliki pilihan nasib kecuali hanya mampu sebagai penjaga regol depan istana. Tidak mampu membaca peluang adanya perubahan-perubahan yang dapat diperankan sehingga bangsa Indonesia dapat menemukan cara lebih makmur. Yaitu mampu mengelola menjadikan semangka adalah bumi yang gemah ripah. Pikulan adalah kesempatan untuk mengelola kekayaan sendiri dan surat adalah legalitas menjadi tuan di negeri sendiri.

Di ibaratkan Sang Raja dan Ki ronggo adalah Tuhan beserta Malaikat yang memberikan peluang kepada penghuni Negara ini berupa semangka adalah bumi yang berisi segala kekayaan tambang emas dan lain lain. Dengan pikulan adalah supaya semangka tersebut digali atau dikelola sendiri, bukan  diserahkan kepada asing.  Yaitu ibarat segala macan kekayaan di dalam dan di muka bumi berupa tanaman, tumbuhan dan berbagai macam kekayaan di gunung, hutan, sawah, lautan. Pikulan di kasihkan kepada bangsa asing sehingga kita masih hanya sekedar menjadi penjaga regol yaitu buruh rendahan.

Lebih parah lagi, kekuasaan formal pun kita serahkan kepada temen kita, bangsa lain. Surat yang sudah diberikan kepada Taruna menjadi simbul bahwa Taruna akan menjadi lurah tetapi peran tersebut tidak di ambil, melainkan kita berikan kepada bangsa lain. Artinya bahwa bias jadi seting masa Paku Buana IV ada pada masa kini. Bahwa kekuasaan kekuasaan formal sudah milik asing.

***

Tahun baru bukan sekedar mampu meniup terompet baru di malam tahun baru. Atau sekedar memiliki kalender baru dengan ramalan-ramalan baru. Kita sebagai bangsa Indonesia seharusnya sudah tidak sekedar menjadi penjaga regol, namun mampu membelah semangka berisi emas, memanfaatkan pikulan yang berisi emas, dan kemampuan menguasai bangsa sendiri, menjadi tuan di negeri sendiri.

Ternyata, bukan karena kehebatan asing menguasai berbagai macam faktor produksi di negeri kita ini, melainkan karena kita sendiri yang mempersilahkan mereka menguasasi bangsa kita. Dan kita hanya mampu melihat ibu pertiwi menangis:

Ku lihat ibu pertiwi

Sedang bersusah hati

Air mata mu berlinang

Mas intan mu terkenang

Hutan gunung  sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini ibu sedang lara

Merintih dan berdoa

 

Secara kebangsaan dan institusional kenegaraan salah dalam mengasumsikan adalah fatal akbibatnya. Mestinya Indonesia segera bisa mandiri, berdaulat ekonomi dan politik, kenapa kita hanya menjadi abdi di negeri yang sangat kaya dikuasai oleh asing.

Hardiwinoto. 2017. Salah Asumsi. Stabilitas. Feb sd Maret 2017

LEAVE A REPLY