Logika dan Masyarakat

Logika dan Masyarakat

134
0
SHARE
berfikir sesat
danusiri

Hardiwinoto.com-Alam bawah sadar manusia sebagai masyarakat akan merasa tersinggung kalau dikatakan tradisional, primitive, atau stigma-stigma lain yang semakna, meskipun tampak menonjol berorientasi ke masa lalu dan kejayaannya, dengan bahasa nguri-nguri budaya adiluhung, peninggalan sejarah, kenangan masa lalu, atau ungkapan lain yang searti yang bisa menghambat berfikir, bersikap, dan bertindak atas dasar pertimbangan logisme-rasional. Sebaliknya, akan merasa tersanjung jika dikatakan modern, ngetrend atau masakini, meskipun sebenarnya hanya sekedar ikut-ikutan dari segi style, gaya, dan penampakan empirisnya. Ilustrasi berikut menjelaskan satu jenis tipologi kesadaran mental apakah ia kuno atau modern.

Ada seorang keturunan Jawa, sebut saja bernama Alex. Ia hidup di Jawa, ketika hendak makan siang karena memang banyak uang, ia merasa kuno, dalam bahasa pasar ’jadul’ kalau makan nasi pecel, nasi soto, mie jowo, nasi gudheg, nasi megono, tahu gimbal, atau nasi koyor di warung makan mbok Kromo atau mbok-mbok lain yang senama lokal. Ia akan lebih percaya diri kalau makan di restoran asing (Japanese Food, Chinese Food, Korean Sea Food, KFC atau Mc Donald ) dengan menu makanan luar negeri.

Tindakan Alex ini sebenarnya termasuk kategori unlogisme jika diukur dari cara berfikir logika makan. Secara umum, logika makan adalah menu yang disebut empat sehat (nasi, atau materi lain yang sefungsi, sayur, buah, dan lauk-pauk) lima sempurna (yaitu susu), tempatnya bersih dan nyaman, meskipun sederhana. Jika Alex tersebut seorang agamawan, halalan thoyibah akan menjadi pertimbangan utamanya pula. Terkandung dalam pengertian thoyibah adalah asupan gizi seimbang dengan kebutuhan tubuh, makanan yang dikonsumsi bebas dari unsure: penyedap, penggurih, pengenyal, perenyah, pengharum, pewarna, dan pengawet yang membahayakan bagi kesehatan tubuh baik dalam jangka pendek maupun janga panjang. Di mana warung atau restoran yang menyediakan menu seperti ini, sebagaimana baru saja disebutkan, apakah warung makan atau restoran itu bergaya Eropa, Amerika, Jawa, Sunda, Jepang, Korea, Thailand atau yang lain, di situlah Alex menjatuhkan pilihannya, kecuali sekedar selingan untuk menambah pengalaman. Umpama sekali tempo makan siang atau makan malam di restoran Jepang. Hanya saja, jika ia seorang muslim yang taat, meskipun hasrat makan didasari ingin sekedar selingan dan mencari pengalaman, aspek makanan haram tetap dihindari.

Tipologi Alex, dalam arti memenuhi hasrat makan hanya dipertimbangan atas dasar gengsi, ngetrend, dan gaul, ini sebenarnya terjadi secara umum di tengah-tengah masyarakat luas. Artinya masyarakat umum kurang memperhatikan cara-cara berfikir lurus dan tepat menurut asas-asas logika.

Fenomena lain seperti: tato pada muka yang warna kulitnya sudah sangat kusam, tindik bibir, semir rambut aneka macam warna, rambut gimbal, celana yang compang-camping pada bagian lutut, memakai celana yang hambir tampak lubang anusnya, yang semua ini tampak tidak estetis. Hal tersebut merupakan indikator kurang bisa berfikir rasional antara kepantasan dan tidak pantas dalam berekspresi diri. Oleh karena itu buku ini diharapkan akan mengubah cara berfikir dan bertindak bagi masyarakat umum manakala mau mmanfaatkan sebagai alat untuk memajukan diri atau masyarakat luas. Dengan kata lain, dapat mengajak berhijrah kepada pembaca khususnya dan masyarakat pada umumnya, dari habitat logika alami menuju kepada logika artificial, yaitu logika metodis, rasional, dan lurus dengan tetap memperoleh naungan dari cahaya qur’ani.

Danusiri. 2015. Logika Dalam Naungan Al Qur’an dan As-sunnah. Karya Abadi Jaya. Semarang.

LEAVE A REPLY