Korona dan Momentum Kemandirian Ekonomi

Korona dan Momentum Kemandirian Ekonomi

234
0
SHARE
korona

Hardiwinoto

“Sesungguhnya, Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan, tetapi mereka yang ingkar mengatakan, Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan? Dengan perumpamaan itu banyak orang yang tersesat, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang mendapat petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”

(Al Bagarah, ayat 26)

ya Tuhan kami, tidak ada apa-apa yang engkau ciptakan adalah sia-sia”

(Q S Ali Imron 90)

Virus korona tentu lebih kecil dari nyamuk. Ada pelajaran dari penyebaran virus korona. Artinya ada yang tersesat atau mendapat petunjuk. Sudah barang tentu dalam mensikapinya. Penyebaran virus korona sudah dinyatakan sebagai bencana nasional oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN). Semua kota sudah memberlakukan semi lockdown. Artinya beberapa institusi pemerintah telah membuat kebijakan bekerja dari rumah. Sekolah dan kampus supaya melakukan pembelajaran secara online.

Bencana penyebaran virus korona dapat berlanjut pada kemacetan ekonomi di berbagai sektor. Mulai dari sisi produksi, distribusi dan konsumsi terhambat akibat beberapa kegiatan ekonomi sudah di lockdown. Ekspor dan impor terhenti berakibat langsung pada konsumsi dan produksi masyarakat menurun, sehingga berdampak pada pengangguran bertambah dan pendapatan masyarakat berkurang.

Berbagai sektor ekonomi yang terganggu, bahkan terhenti antara lain; sektor manufaktur, pariwisata, transpotasi, perhotelan, restoran, suvenir dan dan lain-lain uanh terkait. Beberapa maskapai membatalkan penerbangan ke berbagai negara, seterusnya berdampak pada devisa menurun, aliran modal asing keluar lagi dikarenakan kepanikan investor, sehingga keluar dari pasar modal Indonesia.

Saham di seluruh dunia terperosok  pada minggu ini. Beberapa indeks pasar global terkoreksi mencapai 10 persen. Hal terparah dalam beberapa waktu belakangan ini. Saat yang sama, imbal hasil obligasi jangka panjang AS  telah jatuh terendah. CNN Business Fear & Greed Index yang melihat VIX dan enam ukuran sentimen pasar lainnya telah melihat sekarang tingkat ketakutan di pasar akibat isu penyebaran virus korona cukup ekstrim.

Goldman Sachs menyatakan bahwa kondisi demikian berpotensi memburuk dalam waktu dekat. Lintasan ekonomi AS dan global sangat labil. Pandemi virus korona menyebabkan gangguan yang lebih lama dan resesi AS dan Cina. Penyebaran virus korona berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global hanya akan tumbuh 2,9 persen pada tahun ini. Pertumbuhan yang terendah dalam sepuluh tahun belakangan ini atau dapat lebih rendah lagi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2020 mengalami defisit sebesar US $ 870 juta. Defisit tersebut disebabkan posisi neraca ekspor sebesar US$13,41 miliar, lebih rendah dari neraca impor yang mencapai US$14,28 miliar. Realisasi ekspor nonmigas per Januari 2020 mencapai US$12,61 miliar atau turun 5,33 persen dibandingkan Desember 2019. Jika mengacu pada periode yang sama tahun lalu, ekspor januari 2020 turun sebesar 0,69 persen (yoy). 

Kemandirian Ekonomi

Walau virus korona di mata manusia sebagai bencana, dibalik itu ada berkah. Artinya ada manfaat baik secara individu, istitusi, dan atau masyarakat. Dalam Al Qur’an Surat Ali Imron 190 dinyatakaan bahwa “ya Allah Tuhan kami, tidak ada apa-apa yang engkau ciptakan adalah sia-sia”. Artinya, apapun bentuk makluk meski dianggap sumber bencana, dibalik itu membawa keberuntungan. 

Yang paling nampak adalah ketika banyak masyarakat mengeluh tentang kebijakan impor hasil pertanian dari luar negeri. Dengan adanya wabah korona dari Cina, Kementerian Pertanian telah memperketat pintu masuk impor berbagai jenis makanan termasuk buah-buahan dari negara lain. Artinya masyarakat petani yang dulu resah akibat impor hasil pertanian, kini impor berkurang. Hal demikian akan menggairahkan konsumsi produk pertanian dalam negeri. Selama ini pasokan diperoleh dari luar negeri, kini justru menjadi berkah bagi supplyer dalam negeri. Masyarakat diharuskan memutus ketergantungan terhadap luar negeri.

Bahkan empon-empon yang sebelum ada wabah korona kurang dikenal masyarakat, kini naik kelas. Empon-empon masuk mall dan di taruh paling mudah di dapat, karena semakin banyak penggemar untuk membelinya. Kesadaran baru muncul bahwa empon-empon dapat mencegah virus korona menular, kata para pembeli. Artinya, pertanian bisa dibangkitkan. Virus korona dapat menciptakan momentum mempercepat kemandirian ekonomi. Menjadi sadar bahwa swasembada pangan adalah penting. Indonesia sebagai negara agraris, benar benar dijadikan keunggulan komparatifnya.

Untuk berbagai kegiatan produksi dapat dapat dijadikan momentum penyerapan tenaga kerja lokal, yang selama ini dipekerjakan oleh asing. Sisi konsumsi barang dan jasa juga demikian, yaitu sebagai momentum produk barang atau jasa dalam negeri, bukan produk asing.

Selama ini sekitar 95 persen kebutuhan bawang putih di Indonesia dipenuhi dari impor yang sebagian besar berasal dari Cina. Dianggap bahwa bawang impor lebih besar dari bawang putih lokal. Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian telah menerbitkan izin Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) untuk bawang putih sebesar 103.000 ton dari Cina. Artinya, Indonesia ketergantungan bawang putih dari Cina, maka virus korona dapat dipandang sebagai peluang untuk mewujudkan kemandirian produksi bawang putih.

Kita memiliki beberapa sentra produksi bawang putih seperti di Tawangmangu, Brebes, Temanggung, Jawa Tengah serta Sukabumi, Garut, Jawa Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut berpeluang dikembangkan secara optimal. Di Tawangmangu terdapat varietas bawang putih yang tidak kalah kualitasnya dibandingkan bawang putih impor. Varietas bawang putih dari Tawangmangu jika dikembangkan dengan teknologi yang baik tentu akan menghasilkan yang lebih baik. Artinya, kemauan kita untuk swasembada bawang putih.

Kita mengubah mainset dari impor menjadi belajar produksi mandiri. Jika bawang putih yang diimpor dari Cina dikembangkan dengan kultur jaringan sehingga hasilnya bisa seragam, tentu yang kita tiru adalah model pengembangannya. Bukan impor. Artinya menjadi tantangan pada ahli-ahli di Indonesia untuk menjadikan swasembada bawang putih. Ketidakmampuan kemandirian bawang putih bukan disebabkan persoalan tanah yang tidak cocok, melainkan terletak pada seberapa besar keseriusan pemerintah lepas dari jeratan impor. Kini, dengan wabah korona impor bawang putih berhenti atau berkurang. Apa sikap kita?

Sebagaimana ayat yang dicuplik diatas Dengan perumpamaan nyamuk atau lebih kecil dari itu, banyak orang yang tersesat, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang mendapat petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”. Artinya, kita bisa semakin tersesat jika mengambil sikap yang salah. Mari kita ambil petunjuknya, yaitu kita dididik untuk mandiri. Mumpung ada korona, kita belajar melepaskan dari jeratan impor. Kita jadikan momentum pengembangan produksi bawang putih, setidaknya selama kurun 10 tahun ke depan sudah tidak bergantung dengan bawang putih impor.

Hal demikian pernah dilakukan oleh negara Iran. Swasembada berhasil diwujudkan saat Amerika Serikat mengembargo pasokan gandum ke Iran. Hasilnya, 10 tahun kemudian Iran berhasil swasembada gandum. Kini, Iran ekspor gandum ke Amerika. Pembelajaran yang dapat diambil dari penyebaran virus korona, menyadarkan bangsa kita untuk mandiri, tekat mewujudkan swasembada pangan, dan membebaskan dari ketergantungan impor. Menyadari bahwa negara kita adalah agraris, sehingga bisa menjadikan sektor pangan sebagai comparative advantage. Isu Penyebaran virus korona sebagai momentum menjadi negara ekonomi mandiri.

LEAVE A REPLY