Investasi Dalam Bingkai Teori Ekonomi

Investasi Dalam Bingkai Teori Ekonomi

94
0
SHARE
investasi dalam ilmu ekonomi

Hardiwinoto.com-Sebelum membicarakan tentang investasi, kita definisikan terlebih dahulu tentang ilmu ekonomi, yaitu ilmu yang mempelajari:
1. Bagaimana manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan dengan menggunkan atau mengalokasikan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan.
2. Bagaimana manusia mengalokasikan sumberdaya ekonomi diantara berbagai altenatif perolehan dan penggunaan.
3. Bagaimana masyarakat menentukan pilihannya (study of the ways which society makes choice). Semua individu dalam masyarakat bebas menentukan pilihan tentang alokasi-alokasi sumber daya yang dimilikinya.
Banyaknya alternatif pilihan alokasi sumberdaya seperti alat produksi, konsumsi, barang dan jasa menyebabkan perlu adanya pilihan rasional untuk memenuhi kebutuhan secara optimal. Produsen maupun konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.
Pertanyaan mendasar dalam teori ekonomi adalah bagaimana menjawab pertanyaan berikut:
1. What, yaitu barang dan jasa apa yang harus diproduksikan dan berapa jumlahnya.
2. How, yaitu bagaimana menghasilkan barang dan jasa tersebut.
3. For Whom, yaitu untuk siapa barang dan jassa diproduksi atau bagaimana barang dan jasa tersebut diproduski, didistribusi, dan dikonsumsi.
Teori ekonomi mikro pada abad 18 mendapat perhatian yang lebih besar dari pada makro. Pada saat itu teori ekonomi mikro disebut teori harga (prices theory). Teori ekonomi mikro membicarakan unit-unit individu seperti perusahaan, yaitu bagaimana perusahaan mengalokasikan pendapatan untuk membeli barang dan jasa sebagai faktor produksi dan menentukan tingkat produksi agar dapat mencapai profit yang maksimum.
Dalam price theory, dibahas dua jenis teori yaitu:
1. Teori Nilai (Value Theory), yaitu membahas persoalan konsumen dan produsen secara individu atau kelompok yang dikenal sebagai pasar atau industri.
2. Teori Distribusi (Distribution Theory), yaitu membahas faktor-faktor yang menentukan harga dari faktor-faktor produksi dan perubahan upah, sewa (rent) dan tingkat bunga (interest).
Manfaat teori harga antara lain:
1. Sebagai dasar membuat ramalan (basic for predicition), teori harga dapat membuat ramalan baik bersyarat atau kondisional.

2. Sebagai alat penentu kebijakan ekonomi (economi policy), yaitu bagaimanan kebijakan pemerintah ditentukan untuk mempengaruhi harga, upah, dan alokasi sumberdaya.
3. Sebagai alat pengambilan keputusan manajemen atau metode untuk analisis permintaan dan biaya yang digunakan.
Dalam mempelajarai teori ekonomi banyak menggunakan asumsi ceteris paribus. Contoh ceteris paribus yang paling sederhana terdapat pada fungsi permintaan, yaitu menunjukkan hubungan antara jumlah barang Q yang diminta dan tingkat harga barang P, sedang variabel-variabel lain dianggap konstan.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi tingkat investasi adalah:
1. Marginal Efficiency Of Capital
Investasi merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk meningkatkan atau mempertahankan stok barang modal (mesin produksi, bangunan pabrik, peralatan kantor dan lainnya). Rosyidi (2006) menyatakan bahwa ada dua variabel yang mempengaruhi seseorang menanamkan investasi yaitu marginal efficiency of capital (MEC) dan suku bunga. MEC adalah besarnya keuntungan yang akan diperoleh dengan menanam investasi. Sedangkan suku bunga adalah tingkat harga dari uang, yaitu berapa persen bunga dari sejumlah uang yang ditanamkan tersebut diterima.
Boediono (1990) menyatakan bahwa dalam teori Keynes, keputusan investasi dipengaruhi oleh perbandingan antara keuntungan yang diharapkan dan tingkat bunga. Keuntungan yang diharapkan dinyatakan dalam persentase satuan waktu, dan tingkat bunga adalah biaya penggunaan dana dalam presentase satuan waktu. Apabila tingkat bunga yang berlaku di pasar uang sebesar 2% setiap bulan (atau 24% setahun), sedangkan keuntungan yang di harapkan sebesar 50% maka investasi tersebut masih menguntungkan, (50% – 24% = 26% pertahun). Secara pemikiran rasional ekonomi, investasi tersebut akan dilaksanakan.
Berdasarkan MEC, untuk menentukan investasi berdasar:
a. Jika keuntungan yang diharapkan (MEC) lebih besar dari pada tingkat bunga maka investasi di laksanakan.
b. Jika MEC lebih kecil dari pada tingkat bunga maka investasi tidak dilaksanakan.
c. Jika MEC = tingkat bunga maka investasi bisa di laksanakan, dengan harapan prediksi MEC meningkat.
Marginal efficiency of capital (MEC), atau efisiensi modal marjinal (EMM) adalah tingkat pengembalian yang di harapkan (expected rate of return) dari setiap tambahan barang modal. Marginal efficiency of capital (MEC) dan marginal efficiency of investment (MEI). Sama halnya dengan kurva permintaan akan investasi, kurva MEC secara nasional dapat di turunkan dengan menjumlahkan secara horizontal kurva-kurva MEC dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam perekonimian tetapi ada beberapa ekonom yang tidak sependapat dengan cara penurunan kurva MEC. Padahal jika permintaan barang akan modal secara nasional meningkat, logikanya tingkat bunga akan naik. Akibatnya kenaikan permintaan akan investasi tidak sebesar lurva MEC. Kurva yang lebih relevan adalah kurva marginal efficiency of investment (MEI) atau efisiensi investasi marginal (EIM).
2. Cost Invesment
Cost invesment secara riil dapat diartikan suku bunga (interest). Suku bunga sangat menentukan tingkat biaya investasi. Tingkat bunga pinjaman makin tinggi, maka biaya investasi makin mahal. Hal tersebut berakibat minat berinvestasi makin menurun. Namun demikian tidak pasti bahwa tingkat bunga pinjaman rendah minat investasi akan tinggi, jika biaya total investasi masih tinggi.
3. Expected Rate of Return
Kemampuan perusahaan menentukan tingkat investasi yang diharapkan, sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal perusahaan.
a. Kondisi Internal Perusahaan.
Kondisi internal adalah faktor-faktor yang berada di bawah kendali perusahaan. Misalnya tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi yang digunakan. Ketiga aspek tersebut berkorelasi positif terhadap tingkat kembalian yang diharapkan (expected rate of return). Artinya, makin tinggi tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi, maka tingkat kembalian yang diharapkan makin tinggi.
b. Kondisi Eksternal Perusahaan.
Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi terutama adalah perkiraan tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestik maupun internasional. Jika prediksi ekonomi nasional maupun dunia membaik, maka tingkat investasi meningkat. Selain prediksi kondisi ekonomi, faktor sosial politik dan keamanan juga menentukan gairah investasi. Jika kondisi sosial-politik dan keamanan makin baik, gairah investasi akan meningkat.
Dalam teori ekonomi makro, investasi adalah jumlah yang dibeli per waktu unit barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi masa depan. Investasi juga menyangkut peningkatan sumberdaya manusia, yaitu biaya sekolah atau on-the-job training. Dalam konteks pendapatan nasional atau out put nasional, investasi merupakan komponen produk domestik bruto (PDB). Hal tersebut disederhanakan menjadi rumus PDB = C + I + G + NX. C adalah konsumsi, I adalah investasi, G adalah pengeluaran pemerintah, dan NX adalah net ekspor. Jadi investasi adalah total pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan net ekspor.
Investasi juga sering dimodelkan sebagai fungsi pendapatan dan bunga I = f (Y, r). Peningkatan pendapatan mendorong investasi yang lebih tinggi, sedangkan tingkat bunga yang lebih tinggi dapat menghambat investasi karena menjadi lebih mahal untuk meminjam uang. Bahkan jika suatu perusahaan memilih untuk menggunakan dana sendiri dalam investasi, tingkat bunga merupakan opportunity cost dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan bahwa jumlah uang untuk kepentingan.

The Time Value of Money
Time Value of Money adalah nilai uang menyertakan jumlah yang diberikan bunga yang diperoleh atas jumlah waktu tertentu. Contoh, 100 dolar uang hari ini diinvestasikan untuk satu tahun, jika uang berbunga produktif 5 persen, nilai uang akan naik menjadi 105 dolar setahun. Oleh karena itu, 100 dolar dibayar sekarang atau 105 dolar dibayar setelajh setahun. Baik dibayar sekarang atau satu tahun ke depan memiliki nilai yang sama. Penerima menganggap bahwa bunga 5 persen, menggunakan nilai waktu dari uang tersebt. 100 dolar diinvestasikan selama satu tahun mendapatkan bunga sebesar 5 persen memiliki nilai yang sama untuk satu tahun sebesar 105 dolar.
Beberapa kriteria pengambilan keputusan investasi yang digunakan dalam praktik, yaitu:
1. Payback Period.
Payback period (periode pulag pokok) adalah waktu yang dibutuhkan agar biaya investasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, rencana investasi tersebut dianggap makin baik. Kendatipun demikian, ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun.
2. Benefit /Cost Ratio (B/C Ratio).
B/C Ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding dengan output yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan sebagai C (Cost). Output yang dihasilkan sebagai B (benefit). Jika nilai B/C sama dengan 1 maka B = C yang dihasilkan sama dengan biaya yang dikeluarkan.
3. Net Present Value (NPV).
Metode diskonto adalah dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value. Rencana investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari permintaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya total.
4. Internal Rate of Return (IRR).
Internal rate of return ( IRR ) adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV sama dengan nol. Jika pada saat NPV = 0, nilai IRR = 12%, maka tingkat pengembalian investasi adalah 12%. Keputusan menerima atau menolak rencana investasi dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang di inginkan (r). jika r yang diinginkan adalah 15%, sementara IRR hanya 12%, rencana invastasi ditolak. Begitu juga sebaliknya.

LEAVE A REPLY