Gantangan Burung Dan Perekonomian Indonesia

Gantangan Burung Dan Perekonomian Indonesia

16
0
SHARE
gantangan burung

Suatu sore sengaja aku mengamati gantangan burung di dekat rumah tinggal saya. Gantangan burung adalah sebutan sebuah kontes ocehan (kicauan) burung. Saya perhatikan, ada apa gerangan gantangan burung ocehan. Sebuah event kontes burung kicau, di sana banyak variable dan hikmah ekonomi yang bisa diambil. Variabel ekonomi sangat nampak, yang akan saya uraikan di depan kolom ini. Sedangkan hikmah ekonomi akan saya tulis di akhir kolom ini. Dalam hal variabel ekonomi tentu tidak terlalu menarik. Yang menarik adalah terdapat pada hikmah ekonominya.

Lovebird digantangan itu ngekek panjang. Jelas akan memiliki harga yang sangat tinggi. Pemiliknya akan mendapat uang puluhan bahkan sampai ratusan juta. Lebih besar lagi rupiah diperoleh jika burung ocehan yang di gantang adalah Cucak Hijau, Murai, Kenari, Kacer dan lainnya. Tentu nilai jualnya bukan pada berapa berat dagingnya, melainkan ocehannya. Semakin lama mereka mengoceh tentu semakin mahal harga burung-burung itu. Padahal jika hanya dijual daging paling hanya lima ribu rupiah.

Bisnis burung kicau memang menawarkan keuntungan yang sangat besar. Para penggemar akan memperoleh keuntungan dari gantangan burung. Mereka bisa menikmati indahnya suara burung sekaligus mendapatkan keuntungan jika burung mereka mampu memenangkan kontes ocehan. Tak heran jika banyak pehobi burung kicau sebagai bisnis yang dikelola dengan baik.

Banyak peluang bisnis burung kicau yang bisa diambil. Berbagai peluang bisnis burung kicau, antara lain bisnis sangkar, toko makanan, obat, vitamin, event organiser, penangkaran, jasa pembesaran dan sekolah burung kicau dan lain-lain. Bagi pehobi, kolektor maupun bakul burung kicau berkolaborasi mengorganisir perlombaan atau kontes. Ada juga makelar yang akan mempertemukan pembeli dan penjual burung kicau. mereka mendapatkan fee dari transaksi jual beli tersebut.

Bisnis perburungan mampu mencapai omzet yang besar. Seperti yang terjadi di salah satu perlombaan kontes kicau burung di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Reo Yumitro Bendahara Ronggolawe Nusantara Babel mengatakan bahwa kegiatan gantangan burung mampu menopang perekonomian daerah. Yaitu dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat ternak jangkrik, mencari proto makanan burung, pengrajin buat sangkar, dan lain-lain.

Presiden Jokowi pernah mengatakan bahwa sirkulasi moneter dari perburungan mencapai 1,7 triliun rupiah per tahun. Sirkulasi moneter bisnis bururng mulai dari penangkaran, pakan, sangkar, dan obat-obatan. Berdasarkan laporan spesies burung, di Indonesia terdapat 1.660 spesies jenis burung. Tentu ini merupakan anugerah Tuhan kepada kita. Bisnis burung menjanjikan keuntungan yang besar. Harga anakan Murai dapat mencapai 5 jutaan rupiah. Burung yang menang dalam kontes dapat mencapai 50 juta rupiah (Ketua Ronggolawe Nusantara Babel Toto Pets Shop, 2018).

****

Prestasi burung bisa seharga kambing, sapi, mobil atau rumah tinggal. Padahal berat daging burung tersebut jauh lebih kecil dari kambing dan sapi. Namun harga burung tersebut jauh melebihi harga kambing dan sapi. Karena burung tersebut tidak dijual dagingnya, tetapi prestasinya. Burung pun memiliki kelas dan level. Tidak segan-segan, banyak penggemar burung memberikan saweran sejumlah uang untuk prestasi burung.

Dalam hal burung kicau kita sedang mejual prestasi bukan menjual daging. Kita sedang menjual rating bukan menjual volume. Kita sedang menjual kemampuan satuan bukan menjual kumpulan himpunan. Itulah gantangan burung yang saya perhatikan. Jika sumberdaya ekonomi indonesia tidak hanya dijual dalam bentuk raw material, tetapi value addednya maka akan lebih menajdi besar dampaknya terhadap tabahan PDBnya.

Tentu pemerintah harus mampu mengubah daging menjadi prestasi. Ibarat menjual burung bukan berapa berat dagingnya tetapi berapa prestasi ocehannya. Jika ekonomi Indonesia hanya menjual tenaga kerja Indonesia berapa jumlahnya, berapa himpunannya, berapa kuat ototnya maka dapat terkalahkan satu SDM yang mampu melakukan “ocehan”.

Tentu pemerintah harus memiliki political will mengubah maindset pembangunan ekonomi. Tidak sekedar menyewakan lahan untuk ditambang orang asing. Menjual ruas jalan tol, atau lahan gambut dan hutan, tetapi mampu menjadikan sarana transportasi berbayar dan lahan pertanian subur yang dikelola oleh bangsa sendiri. Yang kita jual adalah value addednya bukan lahannya.

Dalam hal hutan yang kita jual bukan kayunya tetapi kriyanya. Maka tidak mungkin hutan gundul. Dalam hal air yang kita jual bukan lahnnya tetapi air kemasannya. Dalam hal hutan sawit bukan lahannya tetapi minyaknya. Dalam hal tambang mas bukan menjual lahannya tetapi permatanya. Dalam hal laut bukan menjual spacenya tetapi ikan olahannya. Dalam hal laut dan gunung bukan dijual berapa luasnya tetapi yang dijual adalah pariwisatanya. Indonesia serba ada. Semua jenis kekayaan ada di Indonesia. Dalam bumi, permukaan bumi, dalam laut permukaan laut, angkasa dan transportasi udaranya, daratan dan transportasi daratannya. Pantai, gunung, lembah dan semua keindahan alam dan pariwisatanya. Maka nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan. Ayat khas Indonesia, bisa dibaca pada surat Arrahman terulang 30 kali.

Hardiwinoto, STABILITAS (ISSN 2088-6411) Edisi 158:  Agustus – September 2019.

LEAVE A REPLY