Cross Culture Management

Cross Culture Management

242
0
SHARE
cross cultural
suharnomo

Hardiwinoto.com-Secara umum, pendekatan konseptual dan metodologi yang digunakan dalam cross cultural management tersebut, terbagi dalam tiga school of thought, yaitu  economic development orientation, environmental approach,  dan  behavioral approach (Negandhi, 1983:17), yaitu:

  1. Economic Development Approach

Hal ini didasarkan pada premis dasar, yaitu input manajerial memainkan peranan penting dalam pembangunan terutama di Negara berkembang. Pendekatan yang diambil adalah pengamatan secara makro atau agregat terhadap basic trend  perkembangan manajerial dan bukan penelitian yang secara spesifik mengamati micro level yaitu management practices.

Menurut aliran ini, studi tentang cross cultural management berkaitan erat, secara teoritis maupun empiris dengan perkembangan pembangunan suatu Negara. Penelitian Kerr dkk (1955:26), mendukung pandangan aliran ini. Menurut penelitian dari Amerika tersebut, perkembangan industrialisasi di Negara-negara di dunia mengarah pada satu kesamaan, di mana masyarakat industry suatu Negara akan memiliki karakteristik yang relative sama dengan masyarakat di Negara lain.

Kesamaan karakteristik tersebut adalah masyarakat industri akan banyak menggunakan teknologi, investasi dan modal besar. Industrialisasi membutuhkan tenaga kerja yang terampil yang setiap waktu harus siap dengan perkembangan teknologi baru. Industrialisasi membutuhkan lembaga pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan industry. Inilah yang disebut dengan logika industrialisasi (the logic industrialism).

Karena masyarakat modern mengikuti logika industrialisasi, maka perbedaan praktik manajemen satu Negara dengan Negara lain dapat dijelaskan berdasarkan tingkat perkembangan ekonominya. Tahapan industrialisasi di titik puncak akan menciptakan praktik manajemen yang seragam (convergence). Dengan demikian, Negara-negara yang memiliki kemajuan ekonomi setingkat akan memiliki pola piker, perilaku dan praktik manajemen yang sama. Wilayah disiplin ekonomi pembangunan yang luas menyebabkan aliran pemikiran ini sulit untuk mengamati pengaruh budaya terhadap praktik manajemen secara spesifik.

  1. Environmental Approach

Menggunakan perkembangan makro ekonomi sebagai premis utama, pendekatan ini berusaha mengeksplorasi pengaruh faktor-faktor lingkungan seperti sosio-ekonomi, politik, hukum, dan budayaterhadap praktik dan efektivitas manajemen. Pemikir dari mahzab ini yang ternama menurut Schollhammer (1969:81) adalah Farmer dan Richman (1956), yang menyatakan bahwa praktik dan keefektifan manajerial merupakan fungsi dari variabel lingkungan eksternal sehingga perbedaan dalam praktik dan keefektifan antar perusahaan dapat dijelaskan karena adanya perbedaan kondisi lingkungan yang dihadapi masing-masing perusahaan di wilayah atau Negara yang berlainan.

Environment approach memberikan kontribusi penting yaitu perlunya memperhatikan dinamika lingkungan karena faktor-faktor lingkungan berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap perusahaan. Namun, pendekatan ini juga menuai kritik. Negandhi dan Prasad (1971) dalam Kelley dan Wortley (1981:164) mempertanyakannya, jika lingkungan merupakan faktor utama yang memengaruhi perusahaan maka, Montgomery Ward dan Sears Roebuck, dua perusahaan yang bergerak di pasar dan lingkungan yang sama, mestinya keduanya memiliki praktik dan keefektifan yang sama. Namun, pada kenyataannya, keduanya memiliki praktik dan tingkat keefektifan yang berbeda.

  1. Behavioral Approach

Nagendhi dan Prasad (1975:334) memberikan model alternative, untuk menutup kelemahan dalam environment approach, yaitu school of thought ketiga, behavioral approach. Pendekatan perilaku dalam cross cultural management studies berusaha menjelaskan pola perilaku individu dan kelompok dalam organizational setting.

Ada tiga asumsi dasar dalam pendekatan ini, pertama, adanya national character profile  yang berhubungan dengan organizasiontal behavior tertentu. Kedua, preferensi manajer trhadap konsep dan aktivitas manajemen utama dan ketiga, adanya management philosophy  berupa  brief, value system  dan hierarchies,  yang berbeda dalam suatu organisasi dalam kelompok masyarakat tertentu.

Suharnomo. 2016. Manajemen Indonesia, Strategi Mengelola Karyawan dam Perspektif Budaya Nasional. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

LEAVE A REPLY