Ekalaya dan Pendidikan Kita

Ekalaya dan Pendidikan Kita

138
0
SHARE
Palguna
Bambang Ekalaya

Hardiwinoto.com-Ekalaya bukan anak bangsawan atau konglomerat. Ia memang golongan rakyat, namun memiliki semangat untuk meningkatkan derajat. Ia menggelorakan perjuangan hak belajar meski terhalang karena bukan trah raja.
Suatu ketika Ekalaya bersama Arjuna mendaftar sekolah. Ekalaya sadar jika ia tidak memenuhi persyaratan. Bukan karena Ekalaya tidak cerdas, namun karena ia bukan dari golongan Pandawa atau Kurawa. Ekalaya sudah menunjukkan kepintaran, namun Begawan Durna (sang guru) tetap tidak mau menerima sebagai murid.
“Kanjeng Durna, saya ingin berguru di sekolah anda” Ekalaya memohon.
“Apakah anda memenuhi persyaratan yang ditetapkan panitia? Tanya Durna.
“Tentu saja tidak, selain bukan putra bangsawan, saya tak akan mampu membayar” jawab Ekalaya
“Artinya, sekolah ini bukan tempatmu untuk belajar, silahkan memilih sekolah gratis di luar sana” Durna menjelaskan.
“Bukankah ini sekolah negeri, jatah bagi semua rakyat, mestinya sebagai saringan adalah kemampuan belajar bukan kemampuan membayar? Ekalaya balik bertanya.
“Iya, tapi ini sekolah bagi ningrat dan konglomerat, tidak bagi rakyat” tukas Durna.
Ekalaya memiliki kemauan keras, namun ia adalah rakyat. Sedang Durna terikat oleh peraturan Negara bahwa hanya boleh mengajarkan ilmu pada Pandhawa dan Kurawa, sehingga ditolaklah permohonan Ekalaya.
Tidak patah semangat, sehingga Ekalaya membuat patung Durna. Sambil membayangkan patung Durna, ia belajar secara otodidak. Dengan belajar dan latihan sedemikian rupa sehingga Ekalaya menjadi pemuda pintar dan cerdas. Hasil kerja keras tanpa mengenal lelah dilandasi tekad yang kuat, Ekalaya mampu naik tahta menjadi Raja Paranggelung dengan gelar Prabu Palgunadi.
Singkat cerita, Arjuna dan Prabu Palgunadi berburu disebuah hutan. Pesat seperti kilat panah Arjuna menusuk jantung rusa. Ternyata, pada saat yang sama panah Prabu Palgunadi tepat pada sasaran yang sama. Serentak kedua ksatriya itu berlari menghampiri hasil buruannya. Mereka berebut rusa karena kedua panah berimpit pada sasaran yang sama. Karena tidak ada yang mau mengalah, perkelahian pun terjadi.
Mereka saling membanggakan diri. Keduanya menyebut bahwa masing-masing adalah murid Durna. Arjuna tidak mampu mengalahkan Palgunadi. Arjuna mengadu pada Durna dan merasa dikhiananti oleh Sang Guru.
Dalam peraturan, Durna hanya boleh mengajar kepada Pandhawa dan Kurawa. Kenapa ada seorang ksatriya sakti mandraguna mengaku murid Durna. Durna tercengan. Untuk membuktikan bahwa Palgunadi memang bukan muridnya, Durna mengajak Arjuna menemui Palgunadi berada.
Setelah Durna dekat, Palgunadi bersembah sujud layaknya seorang murid pada Gurunya. Durna berkata, ”Benarkah engkau yang bernama Palgunadi dan mengaku menjadi muridku?”
“Leres guru” Palgunadi mengiyakan.
”Aku tidak merasa mempunyai murid bernama Palgunadi, dan juga aku tidak pernah mengajarkan ilmu padamu, bagaimana mungkin kita adalah Guru dan murid?” Durna penuh Tanya.
“Saya pernah mendaftar menjadi murid dan engkau tolak” jawab Palgunadi.
”Betul, aku masih ingat pada waktu engkau mohon untuk kuangkat menjadi murid, namun aku tidak menerimamu, karena diriku terikat sumpah bahwa aku hanya boleh mengajarkan ilmu kepada Pandhawa dan Kurawa. Bagaimana mungkin kesaktianmu persis seperti yang aku ajarkan?” Durna tak percaya.
“Sepulang ditolak menjadi murid sekolah, aku membuat patung Durna, lalu belajar secara otodidak dengan ditunggui patung Durna” Palgunadi menjelaskan.
”Baik, jika demikian, apakah engkau lahir batin mengaku sebagai muridku?” Tanya Durna.
Palgunadi terbuai akan kata-kata Durna, penuh harap bahwa dia bisa diangkat murid secara resmi. Lalu ia berkata, “Apapun perintah Guru akan saya laksanakan dengan senang hati” Sumpah palgunadi.
“Bagaimana kau bisa mengalahkan Arjuna” Durna bertanya.
“Saya menggunakan Pusaka Manik Sotyaning Ampal berwujud cincin” Jawab Palgunadi.
“Cincin Manik Sotyaning Ampal berada di dalam kulit sehingga tidak bisa dilepas, jika memang engkau tidak ingkar atas sumpahmu dan senantiasa menaati perintahku, maka ulurkan tanganmu, aku ingin melihatnya” ucap Durna.
Dengan keluguan, Palgunadi mengulurkan tangannya. Durna secepat kilat menghunus keris dan memotong jari Palgunadi tempat cincin Manik Sotyaning Ampal berada. Palgunadi merintih kesakitan mengucapkan kata terakhir menyayat hati.
”Oh, Guru mengapa engkau tega berbuat demikian kepadaku”
“Karena kamu belajar secara illegal” jawab Durna.
“Lalu dimana cincinku” Tanya Palgunadi.
“Akan kuserahkan pada Arjuna, karena ia murid resmi sekolah negeri” Jelas Durna.
Lalu Durna berkata pada Arjuna “Ngger, cincin Manik Sotyaning Ampal aku berikan padamu, supaya bertambah kesaktianmu, karena engkau murid kesayanganku” Durna memasangkan cincin pada Arjuna.
***
Kisah Ekalaya atau Palgunadi tidak jauh dari masa kini. Sekolah khusus anak para raja tentu tidak nyata ada. Namun kasus Ekalaya masih terasa nyata ada. Meski hanya otodidak kepintaran Ekalaya melebihi Arjuna, bahkan mampu menjadi raja walau bukan murid Durna.
***
Seorang wisudawan berprestasi bertanya “Kenapa Durna memotong jari Ekalaya? Pusaka Manik Sotyaning Ampal dianggap “berserifikat” illegal, dan kenapa ketika diberikan pada Arjuna menjadi legal?”
“Sekarang hal demikian hanyalah penggambaran hukum formal, toh kamu sudah memiiliki ijasah formal”
“Saya malu mendapatkan nilai bagus”
“Kenapa?”
“Karena takut bukan nilai yang sebenarnya” ia menjelaskan.
“Perasaan kamu benar, karena nilai bukan pada angka yang tertera pada transkrip, melainkan pangejawantahan kamu dalam dunia nyata. Oleh karena itu buatlah patung para guru, dosen dan kampus almamater didadamu untuk meneruskan belajarmu. Banyak orang justru terjebak oleh ijasah. Mereka mengira ijasah bisa menggantikan kepintaran. Ijasah adalah cerita masa lalu, sedangkan yang kita hadapi adalah masa depan” saya menutup kalimat. Hardiwinoto 17 Nov 2017

LEAVE A REPLY