Ajaran Ki Kalamwadi

Ajaran Ki Kalamwadi

197
2
SHARE
ajaran ki kalamwadi
hardiyanto

hardiwinoto.com-Pilar-pilar mendakwahkan Islam:

Islam berkembang karena simpati kepada ajarannya dan yang mengajarkan. Artinya bagaimana membuat metode supaya masyarakat bersimpati kepada Islam. Mereka masuk agama Islam karena terpesona penampilannya.

Islam leluasa didakwahkan karena mendaparkan ijin dari penguasa wilayah. Artinya bahwa mendakwahkan Islam harus bersinergi dengan penguasa, yaitu political will nya harus terjaga. Artinya umat islam jangan menjauhi politik praktis, sehingga kemudian ditempati oleh pengikut agama lain. Kemudian umat Islam tergopoh-gopoh tertinggal.

Islam berkembang karena ada kekuatan jalur politik dan kekeluargaan penguasa. Artinya bahwa jalur kekeluargaan menjadi kekuatan yang kuat dalam jalur jalur politiknya.

Maka jika Islam harus berkembang lagi maka harus memenuhi tiga jalur di atas.

 

Hal demikian dapat di runut pada catatan sejarah tentang ajaran Ki Kalamwadi (Hardiyanto, 2006) sebagai berikut:

 

Suatu hari, Darmo Gandhul bertanya kepada Ki Kalamwadi demikian, “awal mulanya bagaimana sehingga orang Jawa meninggalkan agama Budha dan masuk Islam?” Ki Kalamwadi menjawab, “Aku juga kurang paham, akan tetapi aku pernah diberi tahu guruku. Guruku sangat terpercaya. Ia pernah menceritakan awal mula orang jawa meninggalkan agama Budha kemudian berpindah agama Islam”.

“Lalu bagaimana kisahnya?”

Ki Kalamwadi lantas bercerita, “Hal ini perlu diketahui, supaya orang yang tidak tahu bisa mengerti. Pada jaman dahulu Negara Majapahit itu namanya Majalengka. Adapun nama Majapahit itu, hanya untuk pasemon, tetapi yang belum tahu riwayatnya menganggap bahwa nama Majapahit itu memang sudah namanya sejak semula. Raja Majalengka yang terakhir bernama Prabu Brawijaya. Waktu itu, Sang Prabu sedang susah hati. Sang Prabu kawin dengan Putri Cempa, padahal Putri Cempa tadi beragama Islam. Kalau sedang berkasih-kasihan, ia selalu bercerita kepada Sang Raja tentang keluhuran agama Islam. Setiap bertemu tidak ada lain yang dikatakan kecuali memuji-muji Islam, sehingga menyebabkan Sang Prabu terpikat dengan agama Islam tadi. Tidak lama kemudian, keponakan Putri Cempa yang bernama Sayid Rahmad berkunjung ke Majalengka, serta meminta ijin kepada sang Raja, untuk menyebarkan syariat agama Rasul. Sang Prabu mengijinkan permohonan Sayid Rahmad tadi.

Sayid Rahmad tinggal di Ampeldenta, Surabaya sambil menyiarkan agama Rasul. Semakin lama banyak ulama dari luar negeri yang berdatangan, para ulama dan maulana itu kemudian berkunjung kepada Sang Prabu di Majalengka. Mereka memohon diberi tanah di daerah pesisir. Permohonan demikian tadi diijinkan oleh Sang Raja. Lama-lama perkampungan mereka semakin besar. Orang Jawa kemudian banyak yang memeluk agama Islam. Sayid Rahmad menjadi guru orang-orang yang sudah memeluk agama Islam tadi. Adapun tempatnya di Bonang termasuk wilayah Tuban.

Sayid Rahmad adalah maulana dari tanah Arab keturunan Kanjeng Nabi Muhammad, dan menjadi guru orang Islam. Orang Jawa banyak yang terpesona kepada Sayid Rahmad. Orang Jawa di pesisir ke barat dan ke timur meninggalkan agama Budha, kemudian memeluk agama Rasul. Dari Blambangan ke barat sampai Banten, orang-orang juga terpikat kepada ajaran Sayid Rahmad tersebut. Agama Budha di tanah Jawa sudah terbukti hidup selama 1000 tahun. Pemeluk agama Budha meyakini Budha Hawa. Budhi itu Dzat Hyang Widi, Hawa itu kehendak hati, manusia tidak bias apa-apa, bisanya hanya sekedar menjalani, budhi yang menggerakkan. Sang Prabu Brawijaya memiliki seorang putra dari istrinya Putri Cempa. Anak tersebut lahir di Palembang dan diberi nama Raden Patah.

 

Hardiyanto, Sigit. 2006. Ramalan Gaib Sabdo Palon Noyo Genggong. Kuntul Press. Karanganyar-Solo. Hal 1-3.

2 COMMENTS

  1. I see you don’t monetize your blog, don’t waste your traffic, you
    can earn extra bucks every month because you’ve got high
    quality content. If you want to know how to make extra bucks, search for: Mrdalekjd
    methods for $$$

LEAVE A REPLY