Cukong Membangun Opini Risiko Sistematis

http://hardiwinoto.com Suasana panas dan jalan penuh sesak karena para demonstran. Ketiga banker dalam satu mobil merci yang mewah. Mereka sambil bercakap bagaimana cara bank mereka memperoleh deposito dan penabung yang banyak. Mereka sambil berdiskusi membuat program undian berhadiah untuk para nasabah penabung dan pendeposito. Mereka juga mendiskusikan bagaimana cara mendapatkan BLBI.
“Kong” kata Toro.
“Siap Bos” jawab Cukong.
“Siapkan strategi bagaimana kita bisa memperoleh fasilitas pemerintah itu, BLBI” perintah Toro.
“Kamu, Ceko siapkan informasi-informasi penting terkait hukum prosedur dan lain-lain supaya kita ikut mendapatkan BLBI.
“Siap Bos” jawab Ceko nyengir.
Di luar mobil mahasiswa berjaket kuning, merah, biro, coklat, hijau, dengan bendera kampusnya masing masing, dengan spanduk “perjuangan reformasi tak bisa dihentikan”, mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan”, “rakyat bersatu tak bisa dikalahkan”, “reformasi harga mati”.
“Mundur, mundur, mundur, hari ini juga” suara gemuruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, bahkan termasuk dosen-dosennya.
“Kita ke mana Bos” Cukong bertanya.
“Kita cari tempat yang aman, termasuk melupakan bisnis-bisnis kita yang hancur dan tidak tahu kapan harus bisa bangkit kembali” jawab Toro.
Sementara itu Ceko sambil nyetir monthak manthuk saja. Ia memang tidak banyak ide, tetapi kesetiaan kawan serta paling pintar menjaga kerahasiaan manuver-manuver para banker tersebut.
“Bos, kita buat pertemuan para banker Bos” usul Cukung.
“Walah, menghabis-habiskan uang, terus mau bahas apa, semua bankir pada jungkir, mereka juga banyak yang kikir, dan kadang mereka telat mikir, lagi pula mereka juga belum tentu mau berfikir sama dengan kita” Toro nyerocos meragukan relasi-relasinya.
“Tenang Bos, urusan mencerdaskan mereka urusan saya, termasuk saya pintar membuat skenario bisnis di tengah krisis, he he he……, terbukti Bos juga percaya sama saya, bahkan saya memiliki saham 30 persen tanpa aku keluar uang” Cukong memberi kepercayaan pada Toro.
“Dah lah terserah kamu” jawab Toro.
“Kita nanti buat kesepakatan bersama bahwa kondisi sedang genting, kehancuran bank berakibat sistematis. Jika pemerintah menyatakan bahwa situasi genting, dan kebangkrutan bank dapat berdampak sistematis maka BLBI dapat dicairkan pada bank bank yang kolap” Cukong berargumentasi.
“Wis, sak karep kowe, yang penting aman, kita untung, pokoke modal kita tidak hangus” sambil nyetir nyeletuk dari bibir Ceko.
“Pokokmen kowe yo ojo crigis” Cukong sambil njengguk kepala Ceko.

Cukong Ingin Menguras BLBI

Hardiwinoto Muchtar

Hardiwinoto adalah seorang peneliti ekonomi, dosen, kolomnis, dan pegiat sosial. Kegiatan yang dilakukan terkait dengan koleksi buku-buku ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, sastra dan sejarah.

Artikel Menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *