Investasi Sebagai Gaya Hidup

Investasi Sebagai Gaya Hidup

58
0
SHARE
Gaya Hidup Investasi
Pilihan Investasi

hardiwinoto.com-Banyak orang ingin menjadi kaya, tetapi hanya sedikit yang mau berinvestasi. Mereka perlu memiliki banyak uang dahulu, baru mulai berinvestasi. Kalau sudah banyak uang, mengapa harus berinvestasi. Padahal investasi tujuannya untuk mendapatkan uang. Yang betul adalah berani berinvestasi meski belum memiliki cukup uang. Maindset yang perlu dibangun adalah investasi sebagai gaya hidup. Yaitu bagaimana dapat mulai berinvestasi ketika belum banyak uang.
Beberapa kasus yang dapat dijadikan ilustrasi, yaitu terdapat 44 persen dari pemenang undian bangkrut dalam 5 tahun (Fortunes, 15 Jan 2016) dan 70 persen bangkrut dalam 7 tahun (Time, 12 Jan 2016). 10 juta pemenang undian kembali hidup bekerja dengan penghasilan yang hanya cukup untuk pengeluaran bulanan. Mereka bekerja sampingan dan berjuang untuk melunasi sewa hanya dalam waktu 9 tahun setelah mencairkan uang dari kemenangan undian (Business Insider, 19 Mei 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa walaupun memiliki uang yang sangat banyak, jika tidak diinvestasikan akan cepat habis.
Panggil saja Ronald, penjaga pompa bensin dan petugas keberihan. Ia menginvestasikan sebagian dari penghasilan yang tidak terlalu besar, sehingga dapat menghasilkan kekayaan yang lebih besar. Ia mengumpulkan kekayaan 8 juta dollar selama masa hidupnya dari manfaat kepemilikan investasi di pasar ekuitas (CNBC, 9 Feb 2015). Ronald yang berpenghasilan tidak terlalu besar dapat memiliki investasi yang besar.
Bagaimana cara ia dapat mengumpulkan kekayaan tersebut? Ia menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidupnya. Apa yang dimaksud investasi sebagai bagian dari gaya? Yaitu memastikan bahwa sebagian dari penghasilan diinvestasikan. Kedengarannya aneh, dengan penghasilan rendah, tetapi mampu berinvestasi. Itulah yang dimaksud menjadikan investasi sebagai bagian dari gaya hidup.
Investasi sebagai gaya hidup yaitu memprioritaskan kebutuhan yang satu daripada kebutuhan yang lain, bertujuan untuk mendapatkan kepuasan di masa yang akan datang. Mereka menghabiskan waktu untuk mempelajari cara dan produk-produk investasi. Jika digunakan analogi bahwa pelari sebagai bagian dari gaya hidup, maka pelari tersebut akan memperhatikan sepatu, rajin membaca majalah kesehatan, dan mempelajari tentang gaya berlari. Atau menjadikan perjalanan wisata sebagai gaya hidup, mereka akan membaca berbagai informasi tentang tempat-tempat berlibur yang nyaman atau tujuan wisata terbaru. Dan jika berbelanja adalah sebagai gaya hidup, mereka akan senang ke toko-toko, butik atau mall, untuk mengetahui barang-barang merk terbaru yang paling sensasional. Tanpa disadari mereka akan memberikan banyak upaya untuk mencapainya.
Jika gaya hidup di atas dipahami tidak sekedar konsumtif, maka dapat dijadikan peluang investasi terkait dengan penyediaan segala hal tentang gaya hidup. Orang cenderung berupaya untuk mempelajari produk-produk investasi sesuai dengan gaya hidupnya. Gaya hidup seseorang akan mempengaruhi bidang investasi yang akan dilakukannya.
Banyak orang selalu menunda investasi karena merasa belum cukup uang. Teddy Oetomo, Head of Intermediary PT Schroder Investment Management Indonesia, mengatakan bahwa investasi bisa dilakukan kapanpun tanpa menunggu uang terkumpul banyak. Yang perlu dilakukan adalah harus memutus lingkaran penghalang investasi. Teddy menuturkan bahwa meskipun memiliki banyak uang, jika tidak dikelola dengan baik, uang akan cepat digunakan untuk konsumsi.
Jika investasi dijadikan sebagai gaya hidup, orang tersebut akan menjadi lebih disiplin. Hal ini serupa dengan jika seseorang menjadikan berwisata sebagai gaya hidup, maka orang tersebut cenderung disiplin dan menunda pembelian barang tertentu agar dapat mengumpulkan uang yang cukup untuk berwisata. Artinya bahwa investasi menjadi prioritas, sehingga akan mengabaikan kebutuhan tertentu untuk tujuan lebih menguntungkan di masa depan. Kalau hanya sekedar menabung belum cukup, maka perlu melakukan investasi. Yaitu disiplin menyisihkan sebagian penghasilan untuk investasi, dan mampu menghindari godaan menghabiskan uang untuk hal-hal yang kurang produktif.
Investasi sebagai gaya hidup tersebut bisa berupa pasangan pernikahan, pendidikan bagi anak, dan keinginan keinginan seperti memiliki kendaraan pribadi, memiliki rumah tinggal, dan sebagainya. Gaya hidup sebagai Investor bisa bersikap disiplin dalam berinvestasi dengan mengingat tujuan keuangan yang ingin dicapai.
Ketika sepasang suami istri harus menyiapkan dana untuk kuliah anaknya, masa kuliah si anak akan dimulai dua belas tahun mendatang. Waktu yang panjang itu bisa dipergunakan untuk investasi. Yaitu bersikap menyadari bahwa penghasilan yang didapatkan bukan sepenuhnya untuk konsumsi. Penghasilan yang diperoleh setelah disisihkan untuk zakat dam sedekah, sepertiga digunakan untuk membayar cicilan hutang, sepertiga untuk konsumsi, dan sepertiga untuk menabung dan investasi sebagai tujuan keuangan di masa depan.

Investasi Mencapai Masa Depan
Gaya hidup investasi, selayaknya seorang investor memanfaatkan situasi dan kondisi sebagai momentum investasi. Produk investasi berguna bagi para pegawai yang mempersiapkan pensiun. Andreas Kurniawan, Pria lulusan London School of Economics menikmati fleksibilitas dalam semua aktivitasnya. Saat berkembang industri financial technology (fintech), sebut saja layanan pemesanan moda transportasi, pengiriman barang dan makanan, pembelian berbagai barang kebutuhan sehari-hari, hingga pemesanan tiket pesawat dan kamar hotel, semuanya bisa dilakukan secara online. Begitu juga layanan perbankan, menurut Andreas yang menjabat retail development business head di Bank OCBC NISP, saat ini tersedia banyak fitur untuk memudahkan nasabah dalam transaksi. Tidak hanya fitur sederhana seperti penarikan uang tunai melalui ATM, namun juga layanan mobile banking, video banking, dan fitur lainnya.
Fintech yang menyediakan informasi sebagai alat perbandingan investasi di antara berbagai perusahaan dapat dimanfaatkan. Hal demikian akan semakin meluas dan menjadi kebiasaan. Pemerintah pun secara aktif mendorong berbagai institusi keuangan untuk mendukung perubahan pola transaksi menuju cashless society (masyarakat berbasis nontunai). Andreas memilih deposito dan tabungan karena fleksibilitasnya yang bisa diakses di mana dan kapan saja. Dia juga tetap responsif dengan instrumen investasi lainnya seperti reksa dana, surat berharga, dan properti. Dia juga berinvestasi di instrumen saham agar bisa mempertajam daya nalar, dan tidak lupa menyisihkan dana untuk asuransi kesehatan dan jiwa.
Strategi investasi yang dilakukan membuahkan hasil optimal, karea dia optimistis bahwa perekonomian terus membaik. Hal ini tercermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menunjukkan tren positif. Tujuan berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan prioritas hidup, ia membagi tujuann investasinya menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari dan dana darurat. Selanjutnya, bagian kedua bersifat jangka panjang dan terencana. Terakhir adalah untuk perlindungan diri dan keluarga.
Apakah yang dimaksud dengan investasi sebagai bagian dari gaya hidup? Untuk memastikan bahwa sebagian dari penghasilan digunakan untuk berinvestasi. Apabila aktivitas berlari menjadi bagian dari gaya hidup, setiap pelari pasti mengetahui bahwa ada hari-hari ada hambatan untuk melakukan latihan. ”Namun, jika seorang menjadikan lari sebagai bagian dari gaya hidup, disiplin dan melakukan latihan menjadi kebiasaan. Mereka yang menjadikan lari sebagai bagian dari gaya hidup biasanya mengetahui tentang sepatu lari terbaru dan karakteristik sepatu tersebut. Jika investasi sudah bagian dari gaya hidup, mereka menjadi nyaman untuk melakukan investasi dengan berbagai karakteristiknya.
Gaya hidup investasi menjadikan seseorang selalu berupaya untuk mempelajari produk-produk investasi. Karena kegiatan tersebut menjadi bagian dari gaya hidup untuk menikmati proses mengembangkan kekayaan untuk masa depan. Mereka menganggap bahwa berinvestasi tidak perlu modal awal besar. Jika sudah di ujung masa produktif, prinsipnya adalah meninggalkan budaya konsumtif, yaitu tidak ingin menyesal di kemudian hari.
Apakah seseorang sudah siap bersenang senang dahulu demi bersenang-senang kemudian? Kenapa harus besenang dahulu? Yaitu besenang senang investasi dalam melakukan investasi sekarang untuk dapat menikmati keuntungan di masa yang akan datang. Membahas tentang gaya hidup berinvestasi. Seorang harus menyisihkan penghasilan ketika masik aktif bekerja untuk uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) dan lain lain sektor riil yang tidak mengalami penurunan nilai. Penghasilan yang disisihkan dari gaji bulanan untuk DP rumah ketimbang mobil. Termasuk mengurangi gaya hidup lainnya untuk berlibur dan menonton, atau berwisata.
Gaya hidup investasi juga bisa dilakukan dengan cara mengelola rekening untuk cash flow. Untuk rekening tabungan, dengan cara tanpa kartu ATM. Hal tersebut untuk menghindari pengeluaran yang tidak seharusnya. Sebagaimana dilakukan Ayu Siti Aisayah, Perempuan 23 tahun yang belum genap bekerja setahun ini sudah menabung untuk membeli tanah. Maklum, ia lebih senang membangun rumah berdesain sendiri dibanding membeli rumah jadi. Ayu menyisihkan 30% penghasilannya sebagai karyawan sekaligus guru privat bahasa inggris dan penerjemah untuk ditabung. “Saya pilih beli rumah. Harga mobil memang lebih murah dan penting untuk mobilitas, tapi tempat tinggal lebih penting,” ujarnya. Untuk urusan keuangan Ayu memang sangat disiplin. Setiap akhir bulan, ia selalu menulis daftar kebutuhan untuk bulan berikutnya beserta nominal atau budget yang harus dikeluarkan.
Investasi, termasuk di dalamnya adalah menabung untuk memiliki rumah dan studi lanjut. Semisal, tabungan sebesar 30 % untuk rumah, 10 % tabungan untuk melanjutkan studi, 40 %, beber Ayu. Tapi, banyak pula anak muda yang sudah bekerja yang bisa menabung, mereka lebih mementingkan kebutuhan untuk gaya hidup yang menguras habis penghasilan, bahkan sampai terjerat utang.
Rumah123.com dan Karir.com, menaruh perhatian serius kepada kaum muda yang telah bekerja. Hasil risetnya menunjukkan bahwa hanya 17 % kaum muda mampu membeli rumah dengan cara kredit. Pendapatan rata-rata generasi muda saat ini adalah Rp. 6,07 juta per bulan. Sedangkan untuk bisa mencicil rumah berlokasi di Jakarta dan daerah-daerah yang menempel persis sama dengan ibukota RI dengan harga termurah Rp 300 juta, butuh penghasilan minimal Rp. 7,5 juta per bulan. Hanya ada 17% kaum milenial yang bergaji di atas Rp7,5 juta per bulan. Hanya saja, Rumah123.com dan Karir.com meramalkan, lima tahun ke depan atau pada 2021 mendatang, semua generasi muda bekerja dan bermukim di Jakarta terancam tidak bisa membeli rumah. Termasuk yang berpenghasilan Rp. 7,5 juta ke atas. Ramalan itu bertolak dari kenaikan gaji yang rata-rata hanya 10% per tahun dan harga rumah yang mencapai 20 %. Dengan lonjakan 20 % setahun, harga rumah di Jakarta dan sekitarnya yang saat ini Rp. 300 juta per unit akan melompat menjadi Rp. 750 juta di 2021 mendatang.
Kisaran penghasilan generasi masa kini dan lima tahun mendatang hanya Rp. 12 juta per bulan, dengan kenaikan gaji sebesar 10% setahun. Dengan penghasilan sebesar itu, mereka tidak lagi mampu mencicil rumah. Harga rumah yang mencapai Rp. 750 juta, memaksa mereka membayar cicilan Rp. 5,6 juta per bulan. Berarti batasan cicilan maksimal 30% dari penghasilan. Menurut Tejasari, Perencana Keuangan Tatadana Consulting, jika sampai generasi milenial tidak bisa membeli rumah dengan cara mencicil dalam lima tahun sejak bekerja, itu sejatinya kembali ke masalah gaya hidup. Sah-sah saja memenuhi hasrat kebutuhan lifestyle. Tapi, biaya untuk kebutuhan itu maksimal 20% dari gaji. Risza Bambang, Perencana Keuangan One Shildt Financial Planning, lebih ekstrim lagi. Dia bilang, untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup, anggarannya tidak boleh melebihi angka minimal tabungan yakni sebesar 10% dari gaji.
Tejasari menuturkan, untuk bisa mulai mencicil rumah dalam lima tahun ke depan, sebaiknya generasi milenial langsung berinvestasi ketimbang sekadar menabung di bank. “Namun, menabung dulu saja minimal 10% dari penghasilan sudah bagus untuk melatih mereka,” tutur Tejasari. Kalau memang mau langsung berinvestasi, Tejasari menyatakan, ada tiga pilihan instrumen: tabungan emas, reksadana, atawa produk asuransi berlanjut investasi atau unitlink. Tapi sebelumnya, menetapkan dulu tujuan investasi jangka pendek dan panjangnya.Tujuan investasi jangka panjang, misalnya, untuk dana pensiun. Sedangkan tujuan investasi jangka pendek, selain untuk rumah, juga membeli mobil atau biaya menikah. Porsi investasi jangka pendek lebih besar dari investasi jangka panjang.

Agar generasi now tetap bisa berinvestasi sebagai gaya hidup perlu dilakukan beberapa hal berikut:
a. Harus membuat perencanaan keuangan untuk lima tahun ke depan sebaik mungkin.
b. Harus kreatif mencari tambahan penghasilan dengan memanfaatkan teknologi.
c. Berpegang pada asumsi bahwa semakin berprestasi, akan semakin berbanding lurus dengan karier dan pendapatan.
d. Bersenang senang dahulu, bersenang-senang kemudian, yaitu dengan senang mengoptimalkan nilai uanguntuk dapat bersenang-senang di kemudian, yaitu melakukan investasi.

LEAVE A REPLY