Indonesia Dalam Lakon Wisanggeni Lahir

Indonesia Dalam Lakon Wisanggeni Lahir

774
2
SHARE
Lakon Wisanggeni
Wisanggeni

Hardiwinoto.com-Dewi Dresnala bidadari putri kahyangan yang sangat cantik. Ia dihadiahkan pada Arjuna karena berhasil memberantas angkara murka yang yang dilakukan oleh para Buta atau raksasa. Arjuna bersama Dresnala hidup dalam kedamaian penuh kasih sayang. Dresnala telah mengandung bayi dari buah kasih Arjuna. Oleh karena itu Arjuna sering menyambangi Dresnala di kahyangan.

Di tempat lain, Dewa Srani mengadu kepada Bethari Durga, ibunya. Bahwa ia juga menghendaki Dewi Dresnala jadi istrinya. Kemudian Durga dan Srani menghadap kepada Bethara Guru memohon bantuan. Dewa Srani mengiringi ibunya ke paseban agung tempat Bhetara Guru (kepala para dewa) bersama para Dewa bertemu. Antara lain yang hadir, Bhatara Narada, Bhatara Indra, Bathara Kamajaya dan lainnya hadir. Dewa Srani didampingi Dewi Durga menyampaikan maksud untuk merebut Dewi Dresnala. Disitulah Bethari Durga ikut merayu Bhatara Guru.

Singkat cerita, Bathara Guru terpengaruh rayuan Bathari Durga dan Dewa Srani. Bathara Guruh mengeluarkan titah untuk mengusir Arjuna dari kahyangan, yang kebetulan Arjuna sedang mengunjungi Dewi Dresnala. Bahkan Bethara Guru memerintahkan menggugurkan bayi di dalam kandungan Drenala, kemudian mengawinkan Dresnala dengan Srani. Bhatara Narada dan Kamajaya berusaha mencegah, tapi malah diberi sangsi dengan dilepas kedudukanya sebagai dewa. Bhatara Narada marah dan turun ke bumi bersama Kamajaya. Sementara itu pasukan Bathara Indra segera diutus untuk menjalankan perintah, menggugurkan kandungan, dan mengusir paksa Arjuna dari kahyangan. Dewi Dresnala dipaksa untuk ikut ke kediaman Dewa Srani. Sebelum gugur bayi dalam kandungan, Dewi Dresnala berteriak nyaring, lalu lahirlah jabang bayi dari rahimnya.

Dengan sangat kecewa, Semar saat mendapat laporan tentang kejadian tersebut, lalu pergi ke kahyangan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Semar mengetahui terdapat bayi dipukuli oleh para pengikut Bethara Guru. Bayi tidak mati, justru merangkak cepat membesar. Bathatara Indra bingung, maka dihantam dengan pusaka. Bayi merangkak lagi, dan berdiri kemudian mampu berlari. Akhirnya bayi tersebut dimasukan kedalam kawah Candradimuka.

Semar melihat dan berdiri di samping kawah Candradimuka. Tiba-tiba keluarlah remaja dari kawah Candradimuka dengan tubuh berwarna merah api. Remaja tersebut menghampiri Semar dan bertanya, “siapa dirinya dan siapa ayah ibunya”. Semar memberi nama Wisanggeni kepadanya. Wisanggeni pemuda sehat, segar dan penuh kekuatan itu berterimakasih kepada Semar. Lalu oleh Semar Wisanggeni disuruh bertanya kepada pasukan Bethara Guru, siapa ayah dan ibunya. “Bagaimana kalau tak dijawab?” tanya Wisanggeni. “Gebuki aja” jawab Semar.

Wisanggeni menghadang pasukan. Ia bertanya tentang siapa nama ayah ibunya. Semua pasukan, tidak ada yang bisa jawab siapa ayah dan ibu Wisanggeni. Semua pasukan Bethara Guru dihajar sampai kocar kacir. Pasukan menghadap kepada Bhatara Guru. Wisanggeni mengikuti ke hadapan Bathara Guru sambil dipantau oleh Semar. Bathara Guru marah, karena Semar menyuruh Wisanggeni berbuat kasar kepada Bhatara Guru untuk bertanya siapa ayah dan ibunya, dan jika tidak dijawab digebuki. Bathara Guru bertarung melawan Wisanggeni. Bathara Guru kalah, Wisanggeni tidak tertembus oleh pusaka Bathara Guru.

Bathara Guru melarikan diri ke dunia, Wisanggeni terus mengikuti. Di dunia Bathara Guru menemui Arjuna yang lagi bersedih bersama Werkudara dan didampingi dua orang pertapa. Bhatara Guru datang dan meminta bantuan bahwa ada “anak syetan” yang mengacak acak kahyangan. Walaupun Arjuna diperlakukan buruk oleh para dewa, ia siap maju, tapi Werkudara mencegahnya. Werkudara menghadapi “anak syetan” tersebut. Wisanggeni bertanya pada Werkudara, “Siapakah kau”?. “Aku, satria Satria Yodipati”, jawab Werkudara.

Semar berpesan, “Jika Wisanggeni mau mengalahkan, hantam kuku Pancanaka Werkudara, itu kelemahanya”, pesan Semar. Terjadilah pertarungan antara diantara keduanya. Werkudara dikalahkan oleh Wisanggeni, dan menyuruh Arjuna maju menggantikannya.

Wisanggeni bertanya kepada Semar “siapa dia”?. “Itu ayahmu, jangan melawan” jawab Semar. Namun pertarungan tetap tak bisa dihindari, Wisanggeni kalah. Ia hampir tertusuk keris oleh Arjuna, tapi dihalangi Semar. “Lebih baik bunuh saya, karena dia itu anakmu”, kata Semar. Werkudara ganti mengamuk setelah tahu bahwa Bathara Guru yang salah. Sambil mengamuk, ia bergumam, “Pantas aku kalah, karena aku membela yang salah”. Dua pertapa ternyata Kamajaya dan Narada.

Setelah gak kuat berhadapan dengan Semar, Bathara Guru minta maaf pada Semar, Narada, Kamajaya, Arjuna dan Wisanggeni. Wisanggeni melabrak tempat kediaman Dewa Srani, lalu sang ibu Dewi Dresnala diajak pulang.

***

Kedamain yang disimbulkan keluarga Arjuna dan Dresnala terkoyak oleh keinginan Srani yang ingin merebut Dresnala. Politik patgulipat, konspirasi, permainan elit para Bethara membuat kebijakan tidak adil. Bethara Guru pemimpin para pengambil kebijakan luruh dengan rayuan Durga yang hanya menginginkan Srani, anaknya bahagia karena keinginannya bisa terpenuhi, meski dengan cara merebut. Bethara-Bethara lain seperti Narada dan Kamajaya, yang seharusnya meluruskan tidak digubris, malahan dilemahkan dan dipecat. Sementara itu Bethara Indra malahan menjadi pemimpin pasukan koalisi Bethara Guru dan Bethara Kala. Kahyangan sudah sudah mampu menjadi teladan dan pengayom. Bahkan realitas politik kahyangan telah melakukan politik devide at empira pada rakyatnya sendiri, yaitu satu komunitas idak sedang komunitas yang lain disumpal uang.

Generasi baru bernama Wisanggeni, anak arjuna bisa jadi sebagai anak ibu pertiwi, mereka tidak mungkin bisa dihentikan semangatnya. Meski hendak dibunuh sejak dini ketika masih dalam kandungan. Bahkan dibumi hanguskan yaitu dimusnahkan, dimasukkan di kawah Candradimuka. Generasi baru justru akan bangkit dari kawah Candradimuka. Ketika Guru tidak mampu menumpas genrasi baru, maka Guru mengadu domba dengan paman dan ayahnya sendiri. Genarasi baru dilabeli anak syetan, anti dasar negara dan anti persatuan. Arjuna dan Werkudara, bapak dan pamannya sendiri, karena tidak paham, mereka pun ikut dalam barisan penumpas generasi baru tersebut. Dalam benak mereka, Wisanggeni adalah perusak keutuhan NKRI harga mati. Maka terjadi perang saudara yang tak berkesudahan.

Ini adalah bulan Agustus, bulan kemerdekaan, mari maknai kemerdekaan dengan persaudaraan antar paham kenegaraan bukan pemberangusan kemerdekaan kawan. Politik devide at empira adalah politik penjajah yang menyengsarakan. Bukan untuk ditiru penguasa untuk mengadu domba rakyatnya sendiri.

Hardiwinoto, Stabilitas, Edisi Agustus- September, 2017

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY