Terperosok Pada Teori Ricardo

Terperosok Pada Teori Ricardo

156
0
SHARE
David Ricardo

http://Hardiwinoto.com-Teori keunggulan komparatif Ricardo menjadi oposisi terhadap merkantilisme. Appleyard dan Field (2006) mengatakan bahwa Toward the end of the 18th century, Mercantilism came under increasing attack by a group of political economist, whose views eventually became known as the classical shcool of economics. This movement was given even more impetus by the work of David Ricardo, The Principles of Political Economy and Taxation (1817).
David Ricardo menjelaskan bahwa a nation, like a person, gains from trade by exporting the goods or services in which it has its greatest comparative advantage in productivity and importing those in which it has the least comparative advantage. Perdagangan internasional memberikan keuntungan bagi negara (the gains from trade). Lindert dan Pugel (2000) mengatakan bahwa The key word here is comparative, meaning relative and not necessarily absolute. Even if one nation is the most productive at producing everything and another is the least, they both gain by trading with each other as long as their (dis) advantages in making different goods are different in any way.
Namun, asumsi-asumsi Ricardo bersifat restriktif, tidak ditemukan dalam realitas. Pertama, Ricardo berasumsi bahwa setiap negara memiliki sumber daya yang sama. Jika asumsi tersebut dianggap benar pun, hanya pada negara-negara yang berkarakteristik sama. Kedua Ricardo berasumsi negara dalam kondisi full employment. Secara eksplisit asumsi tersebut tidak dapat ditemukan, walaupun di negara maju sekalipun, apalagi negara berkembang atau miskin.
Ketiga, Ricardo berasumsi bahwa perekonomian dalam kondisi persaingan sempurna. Terkait tersebut, Ricardo mengatakan bahwa no single consumer or producer is large enough to influence the market; hence all are price takers. All participants have full access to market information, there is free entry to and exit from an industry, and all prices equal the marginal cost of production. Keempat, bahwa biaya transportasi barang baik domestik maupun internasional sama dengan nol. Kenyataannya, biaya transportasi menjadi faktor penentu keputusan dalam perdagangan internasional. The cost of moving a product from one country’s location to another can be very high. Artinya, dengan spesialisasi produksi, perdagangan internasional akan saling menguntungkan.
Disamping itu Ricardo belum memberikan ukuran rasio harga yang tercapai antar negara. Aplleyard dan Field mengatakan bahwa Ricardo did not examine the precise determination of the international price ratio or the term of trade. But the important point is that, after trade, there will be a common price of wine in terms of cloth in the two countries. Juga belum mempertimbangkan faktor wage rate, exchange rate, dan transportation cost. Dengan demikian, jumlah komoditas yang beragam, dan jumlah negara yang terlibat lebih dari dua, maka asumsi Ricardo terdahulu tak terbukti.
Sampai kini, teori Ricardo tentang keunggulan komparatif diyakini sebagai alat negara yang tepat untuk memperoleh keuntungan menggantikan merkantilisme. Pengendalian pemerintah dan instrumen pajak impor dianggap sebagai penghalang yang menggerus kesempatan negara untuk mengembangkan kemampuan ekonominya melalui perdagangan internasional. Appleyard dan Field menulis bahwa finally, government restraint and taxes on industry reduce economic competitiveness and the gains from trade. Such actions clearly hinder the more efficient use of resources achieved through trade and reduce the potential gains that come about through increased specialization.

Letak Keterperosokan
Indonesia dan banyak negara berkembang atau miskin ketika memasuki perdagangan internasional tidak memiliki keunggulan komparatif, sehingga lebih banyak mengimpor. Krugman dan Obstfeld (1983) menulis pada kolom Wall Street Journal bahwa many small countries have no comparative advantage in anything. Many small countries have no absolute productivity advantage over other countries in anything. What he failed to understand is that an absolute productivity over other countries in producing a good is neither a necessary nor a sufficient condition for having a comparative advantage in that goods. Jadi, jika negara memiliki produk tidak lebih efisien dibanding dengan negara lain, maka negara tersebut semakin terisolasi dan hanya sebagai pengimpor.
Memang, teori Ricardo memberi dampak positif terhadap kemajuan ekonomi negara yang memiliki keunggulan komparatif produk. Akan tetapi, hal demikian dikhawatirkan dapat mempersulit keadaan produsen dalam negeri atas barang-barang yang tidak memiliki keunggulan komparatif. Negara ketergantungan impor, sehingga menyebabkan produsen lokal kesulitan berkembang. Pangsa pasar produsen lokal akan menjadi lebih kecil karena harus berkompetisi dengan produsen impor. Terlebih jika kekuatan produsen lokal belum begitu mampu untuk berkompetisi dengan produsen luar negeri.
Negara menjadi tidak hadir dalam memproteksi industri dalam negeri, termasuk petani dan penyedia jasa, antara pendidikan dan perbankan. Ketika hasil hitung pengukuran jumlah jam tenaga kerja dalam negeri dalam memproduksi barang ekspor terhadap jumlah jam tenaga kerja dalam negeri dalam memproduksi barang impor, ternyata tidak memiliki keunggulan komparatif lalu kebijakan yang diambil adalah impor. Tugas negara sebagai pelindung dimana?
Artinya, negara terperosok dalam kemalasan, terperosok pada teori Ricardo. Jika persoalannya kurang efisien maka seharusnya solusinya adalah menciptakan kondisi efisien bukan impor. Keterperosokan yang lebih dalam adalah negara tidak menciptakan keunggulan produksi baru. Dampaknya, ketergantungan impor berakibat rupiah semakin menurun sehingga semakin banyak digitalnya, untuk menghaluskan kata bahwa rupiah selalu terdepresiasi sepanjang masa. (17-2-2018)

Hardiwinoto. 2018. Stabilitas. Edisi Februari-Maret 2018

LEAVE A REPLY