Souw Beng Kong: Kapiten Tionghoa Pertama

Souw Beng Kong: Kapiten Tionghoa Pertama

107
0
SHARE
Tionghoa

Souw Beng Kong: Kapiten Tionghoa Pertama

Pada 1611 ketika Pieter Both menjadi Gubernur Jenderal VOC yang masih berkedudukan di Maluku, ia mengutus bawahannya, Jan Pieterszoon Coen untuk membeli hasil bumi terutama ke Banten. Di Banten Coen berkenalan dengan Souw Beng Kong (Bencon) seorang pedagang Tionghoa yang sangat berpengaruh dan mempunyai perkebunan lada yang luas sekali. Beng Kong sangat dihormati dan dipercaya penuh oleh para petani Banten. Setiap pedagang asing seperti Portugis, Inggris dan Belanda yang ingin membeli hasil bumi dari petani Banten harus melakukan negosiasi harga dan lain-lainnya dengan Souw Beng Kong.

Souw Beng Kong lahir di Tang Oa, dekat kota pelabuhan Amoy, Propinsi Hokkian, kira-kira pada 1580. Istri resminya, Nyai Inqua diperkirakan berdarah Melayu, karena surat wasiat terakhir suaminya harus dijelaskan kepadanya dalam bahasa Melayu. Souw Beng Kong mempunyai seorang putra yang ditinggal di Tiongkok, dua putra dari dua budak wanita Bali, seorang putra lain dari seorang wanita Tionghoa dan seorang putrid yang istrinya tidak pernah disebut-sebut.

Dengan surat keputusan Gubernur jendral pada 18 Agustus 1620, Souw Beng Kong di beri kekuasaan penuh unttuk menangkap orang Tionghoa yang menurut pendapatnya harus ditangkap dan menyerahkan kepada Belanda.

Pengangkatan Souw Beng Kong dalam jabatannya tersebut disetujui oleh pemerintah pusat di negeri Belanda dalam suratnya kepada Coen yang antara lain menyyatakan, Pemerintah Belanda menyetujui pengangkatan tuan Bencon (Belanda menyebut Souw Beng Kong dengan Bencon) sebagai anggota College van Schepenen”

Karena jasa-jasanya, dengan surat keputusan tertanggal 1 Februari 1623, Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen member hadiah dua bidang kebun kelapa kepada Souw Beng Kong. Di atas kebun kelapa tersebut di bangun rumah-rumah batu yang biayanya ditanggung VOC. Penjagaan sing malam oleh tentara VOC juga diberikan demi keamanan Souw Beng Kong dan keluarganya.

 

Benny G. Setiono. 2002. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Elkasa. Jakarta.

LEAVE A REPLY