Masjid dan Pasar

Masjid dan Pasar

27
0
SHARE
lapak di depan masjid

Masjid dan pasar adalah dua “dunia” terkait dengan tema abadi tentang keadilan dan kesejahtaraan. Dua instrumen untuk mengasosiasikan tentang Islam yang “kaffah“. Masjid dibicarakan sepaket dengan pasar, menjadi satu kesatuan yang tak dapat dilepaskan dari konteks di mana masyarakat Indonesia berkembang. Mendiskusikan pasar dan masjid, gambaran sinergitas perkembangan sebuah komunitas besar. Kota-kota di Nusantara, terutama di Jawa, selalu terdapat alun-alun, masjid, pasar atau pusat aktivitas ekonomi, dan keraton atau pusat kekuasaan. Kota-kota dan keraton Jawa sangat dipengaruhi oleh peran Masjid sebagai pusat peradaban.

Sepertinya bertentangan dengan apa yang disampaikan Abu Hurairah tentang sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah Masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah Pasar-pasarnya.” (HR Muslim). Juga Hadits lain, tentang dialog antara Rasulullah Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril. Muhammad SAW, bertanya, “Wahai Jibril, tempat manakah yang disenangi oleh Allah?” Jibril menjawab, “orang yang paling disenangi adalah orang yang pertama masuk dan terakhir keluar masjid”. Muhammad SAW kembali bertanya, “Tempat manakah yang paling tidak disukai oleh Allah Ta’ala?”  Jibril menjawab, “Orang yang paling dahulu memasuki dan paling akhir meninggalkan pasar.”

Dua kata yaitu masjid dan pasar, serta kata cinta dan benci. Kata cinta (ahabbu) oleh Allah adalah Masjid, dan kata dibenci (abghodu) oleh Allah adalah Pasar. Imam Nawawi dan Imam Qurtubi  menjelaskan bahwa masjid merupakan tempat yang dikhususkan untuk beribadah, berzikir, dan berkumpulnya orang-orang Islam beraktivitas. Sebaliknya, pasar dimana tempat berbuat curang, tipu daya, riba, sumpah palsu, ingkar janji, dan penghalangan zikir kepada Allah.

Namun demikian menarik untuk membaca ayat ini, yaitu melihat relasi antar masjid dan pasar. [QS.62:9] “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. Tampaknya, keberadaan masjid tidak jauh dari pasar. Dan orang-orang beriman sangat bersemangat beraktivitas di pasar. Jika terdengar suara panggilan shalat mereka pun bersegera ke masjid. [Qs.62:10] “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

Artinya bahwa orang-orang beriman sangat sibuk dengan dua tempat tersebut. Dari pasar ke masjid dan dari masjid ke pasar. Kata kuncinya adalah supaya beruntung. Tentu sangat prihatin jika mendengar dan melihat pengumuman saldo kas masjid yang sampai ratusan juta, sementara itu masyarakat di sekitar masjid kekurangan modal atau sirkulasi moneternya seret. Artinya pasar di masyarakat setempat tidak berkembang. Tentu sangat paradoks. Dana besar di masjid tidak terberdayakan.

Paradigma memakmurkan masjid tentu harus dapat dimanfaatkan dananya. Yaitu untuk kegiatan produktif bagi jamaahnya. Masjid dapat bersinergi dengan pasar. Eksistensi masjid dan pasar saling dapat mendukung. Ada nama masjid di Yogjakarta yang berlokasi di jalan Jogokariyan 36. Bukan masjid megah berlapis emas dengan arsitektur dan ornamen indah, tetapi hanya masjid sederhana dua lantai.  Yang menarik adalah dalam hal manajemen pemakmurannya. Saldo uang kas selalu nol, karena selalu dibelanjakan untuk membantu kehidupan ekonomi warga sekitar.

Masjid adalah pasar. Kita perhatikan, setiap hari jum’at, masjid-masjid di kota identik dengan dengan pasar. Para pedagang makanan dan minuman, beragam jenis kebutuhan rumah tangga, pakaian, perlengkapan ibadah, perangkat rumah tangga, alat tulis kantor, obat tradisional, buku-buku agama, souveneer, dan lain-lain, sampai sektor jasa transportasi, perbankan dan asuransi, tumplek bleg mremo kepada para pengunjung masjid. Kita lihat pula, pasar di seputar masjid terbesar di dunia adalah terdapat di Makkah dan Madinah di musim haji.

Jika dicermati, mereka menggunakan momentum peribadatan datang ke masjid bersama-sama dalam jumlah besar. Mereka berdatangan dari luar kota, ingin melengkapi wisatanya dengan berkunjung ke masjid. Disamping untuk shalat berjamaah, mereka ingin pula menikmati lingkungan masjid untuk berphoto ria. Sebuah fenomena yang tak bisa diabaikan, bahwa pasar digerakkan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga transaksi di pasar tercipta dari sinergi antara pasar dan masjid. Potensi yang sangat berharga ketika bicara masalah pengembangan ekonomi umat Islam.

Hal demikian terkait dengan menertiban lokasi pada pedagang dapat bertransaksi, sementara itu suasana ibadah tetap khusuk. Hal demikian untuk mendekatkan masyarakat dengan masjid, dan masjid dengan pasar. Masjid jika perlu dilengkapi dengan penginapan yang mampu menampung jamaah luar kota. Sehingga mereka tertarik untuk tidak sekedar berkunjung sebagai turis, tetapi juga menikmati khusuknya peribadatan.

Jika demikian kita dapat membangun ekonomi umat dimulai dari masjid.  Di daerah-daerah tertentu, keberadaan masjid sangat diutamakan. Sehingga muncul pandangan bahwa perkampungan belum dianggap sempurna jika belum dibangun masjid. Sedemikian besar kesadaran dan semangat kaum muslimin terhadap masjid, sehingga masjid menjadi sedemikian banyaknya. Sedemikian penting bagi kehidupan adalah pasar, sedemikian penting pula adalah masjid. Masyarakat pada tingkat apapun selalu membutuhkan pasar dan masjid.

***

Paradoks, jika Islam selalu tertuduh nuansa buruk, terorisme, radikalisme dan kekisruhan. Masjid dan setiap keberadaan peribadatan umat Muslim adalah gerakan ekonomi. Puasa dan idul fitri adalah momentum pergerakan ekonomi, haji dan qurban adalah pasar terbesar yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat tidak pandang bulu agamanya. Bahkan dana haji karena antri puluhan tahun dapat dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur. Zakat infat dan sedekah umat Muslim dapat mendorong bertambahnya konsumsi masyarakat. Wakafnya dapat digunakan untuk membangun fasilitas-fasilitas publik di masyarakat. Maka rahmatan lil alamin dalam Islam manakah yang kamu dustakan.

LEAVE A REPLY