Makna Spirit Biola Ahmad Dahlan

Makna Spirit Biola Ahmad Dahlan

254
2
SHARE
ahmad dahlan
suara merdeka 4 Okt 2010

hardiwinoto.com-Ketika sedang menonton film Sang Pencerah, kita akan terkesima bagaimana Kiyai Haji Ahmad Dahlan memainkan biola di depan santri-santrinya. Kenapa? Ketika salah satu santri bertanya apakah agama itu? Gesekan biola yang merdu dijadikan alat menjelaskan, sedangkan santri mendapatkan jawaban masing-masing. Ahmad Dahlan ingin menjelaskan bahwa agama adalah harmoni, keindahan dan pembelajaran. Agama sebagaimana musik atau nada yang harmoni sehingga menciptakan keindahan. Sedang musik tidak bisa dimainkan kecuali dengan proses pembelajaran sampai mampu memainkannya. Hanung Bramantya, sang sutrdara menjadikan babak paling menggairahkan diantara babak lain yang cenderung mengharukan, menggelikan, dan memprihatinkan akan kebodohan dan kenestapaan umat muslim saat itu.

Bagaimana memaknai biola saat ini? Tentu tidak serta merta menjadi penggerak Muhammadiyah harus pandai bermain biola, sebagai identitas atau alat pembeda dengan gerakan yang lain, melainkan harus mampu memaknainya. Jika direnungkan ada beberapa makna spirit dari biola Ahmad Dahlan, antara lan; keberanian tampil mempesona, terobosan memecah kebekuan kultural, dan  kemampuan menangkap instrumental dakwah.

Biola, seabad yang lalu bagi umat memang terasa asing. Namun Ahmad Dahlan mampu membangun semangat untuk kemanusian yang terkait dengan pengentasan kemiskinan dan mencerdaskan umat. Beliau juga mampu meletakkan dasar-dasar organisasi formal untuk membangun sekolahan,  panti asuhan  dan balai pengobatan.

Nasruddin Anshoriy Ch, dalam buku   “Matahari Pembaruan: Rekam Jejak Ahmad Dahlan” menjelaskan bahwa sebelum mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan telah ikut serta dalam pergerakan nasional di Indonesia. Pada tahun 1909, Ahmad Dahlan berkenalan dengan Boedi Oetomo  yang kemudian menjadi anggota. Pada tahun 1910, Ahmad Dahlan juga menjadi anggota Jamiat Khoir, organisasi Islam bergerak dibidang pendidikan yang  mayoritas anggotanya adalah orang Arab.

Kemudian Ahmad Dahlan berusaha dapat diterima menjadi guru agama di sekolah modern (Hicks School) yang dikelola Belanda karena prihatin banyak para putra ningrat Jawa yang tidak menegenal Islam. Keterlibatan Ahmad Dahlan dalam berbagai organisasi nasional modern dengan berbagai kalangan, Arab, Ningrat dan Belanda tersebut menjadikan beliau paham dengan masalah berorganisasi, sehingga pandai mengatur organsiasi secara modern di kalangan Islam.

Ahmad Dahlan memang hidup di lingkungan keluarga Keraton, tetapi beliau sering turun ke bawah untuk mendakwahkan Islam tanpa mengenal lelah. Bahkan beliau berdakwah sampai ke pelosok Surabaya, yakni di Gang Peneleh. Disanalah, HOS Tjokraminoto, Soekarno, Roeslan Abdulghani pertama kalinya mendengarkan penjelasan tentang Islam dari Ahmad Dahlan. Dari sini spirit Ahmad Dahlan sangat nampak  dan kepandaiannya masuk berbagai komunitas masyarakat.

Dakwah kultural gaya Muhammadiyah, untuk memaknai biola tidak sekedar selalu memiliki marching band di sekolahan muhammadiyah. Biola adalah spirit, bukan “syari’at”, oleh karena itu Muhammadiyah harus selalu menunjukkan hal yang baru. Biola juga bukan “standard” melainkan inspirasi untuk membangun keselarasan umat beragama, yaitu mampu berbuat lebih dari sekedar biasa. Biola juga tidak “pakem“ yang harus dijunjung tinggi melainkan keberanian untuk dituduh “kafir”, karena berani keluar dari kejumudan.  Inilah ujian “ke-modern-an” Muhammadiyah.

Jika Muhammadiyah hanya mengandalkan semangat pendirian sekolahan, panti asuhan, dan rumah sakit yang “standar” saja, maka Muhammadiyah belum mampu memaknai biola Ahmad Dahlan. Karena ketiga pilar tersebut adalah kebutuhan pencerahan satu abad yang lalu, sudah luntur ke-“baru”-annya, walau bukan berarti sudah tidak penting. Bagaimana seharusnya amal usaha yang harus lahir dari inspirasi Ahmad Dahlan? Muhammadiyah harus lebih dari sekedar standar, karena ketiganya sudah bukan hanya Muhammadiyah yang mengelolanya. Muhammadiyah sejak terbangunnya adalah mencerahkan dan menyadarkan, dengan ke-baru-an yang mutakhir, sebagaimana biola ketika dijadikan intrumen Ahmad Dahlan mengajari ngaji kepada santrinya.

Bagaimana jika biola dihubungkan dengan misi utama Muhammadiyah? Yaitu memberantas penyakit kronis kejumudan umat yang terkait Tahayul, Bid’ah dan Curofat (TBC)?. Menolak TBC adalah pencerahan, yang merupakan ke-baru-an khasanah tradisi Islam. Dan ke-baru-an adalah jika mampu mengembalikan ajaran kepada Al Qur’an dan Sunnah yang sesungguhnya. Tentu, setelah seabad yang lalu Ahmad Dahlan ditemani biola mampu mencerahkan umat, bagaimana sekarang? Tentu dengan metode dan intrumen baru, menjadikan “Muhammadiyah bukan organisasi biasa”.

Muhammadiyah Jangan Menjadi Tua

Supaya tidak menjadi tua perlu sebuah pem-baru-an. Kenapa? Tua bagi terminologi orang jawa akan mengidap masalah tiga S, yaitu, menjadi Sepi (sedikit peminat), Sepa (terasa hambar) dan Sepah (sampah yang dibuang). Pertama, dikatakan sepi karena sudah tidak diminati, hilang gairah untuk jumpa dengannya. Seperti orang yang sudah tua, terasa sepi, karena sudah tidak banyak yang mendatangi. Karena kehilangan gairah dan pesonanya.

Kedua, menjadi tua akan terasa sepa (terasa hambar), kehilangan heroisme, romantisme, sehinngga nuansa keindahannya hanya ketika dikenang. Sebagaimana orang tua, untuk menikmati makan seenak apapun akan terasa hambar. Dan ketiga, menjadi sepah, karena sudah ditinggalkan. Hanya sedikit orang yang menyambangi dan meminati, meski  menjadi barang antik yang  bernilai mahal.

Oleh karena itu Muhammadiyah jangan menjadi tua meski umur sudah seabad. Bagaimana Muhammadiyah tetap muda dan menggairahkan bagi yang bergabung? Yaitu selalu menciptakan pem-baru-an disetiap amal usaha. Sehingga amal usaha yang diciptakan oleh Ahmad Dahlan sebagai pilar pem-baru-an tidak menjadi tua bahkan menjadi “fosil”.

Sebagaimana bung Karno ketika bersimpati kepada K.H. Mas Mansur dengan menyebut seorang ulama’ Indonesia yang paling terkemuka, tokoh muda Muhammadiyah. Bung Karno menulis di Panji Islam tahun 1940 yang di koleksi dalam buku Dibawah Bendera Revolusi. Yaitu Bung Karno bicara tentang me-muda-kan pengertian Islam dan juga ke-muda-an dalam Muhammadiyah. Bagaimmana cara memudakan pengertian umum? Sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno “bahwa kini her-orientatie-umum adalah perlu, amat-amat perlu”.

Ahmad Dahlan memainkan biola, sebagaimana sunan Kalijaga menjadikan wayang sebagai sarana dahwah. Itulah simbul peremajaan budaya. Dakwah kultural adalah bagaimana mengeksplorasi metode untuk memikat umat, sehingga masyarakat rela hati berkurban dan beramal melalui media Muhammadiyah. Tetap muda sebagaimana tembang yang digubah dimasa sunan berikut:

lir ilir lir ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo royo, tak sengah kemanten anyar, cah angon cah angon penekna blimbing kuwi, lunyu lunyu penekna kanggo mbasut dadat ira, ………”

Jika dimaknai, tembang tersebut secara mendalam bicara kegairahan dan  semangat tentang ke-muda-an baik suasana, metode maupun pelaku. Selamat menjalankan MUSWIL, jadikan Muhammadiyah tetap berinovasi dalam ke-baru-an dengan semangat muda sehingga terjauhkan dari rasa sepi, sepa dan menjadi  sepah.

Hardiwinoto, Suara Merdeka, 10 Oktober 2010

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY