Islam di Nusantara

Islam di Nusantara

175
1
SHARE
islam di tanah jawa
babad demak

hardiwinoto.com-Islam berpolitik sangat dibenci oleh politik non Muslim, karena dalam sejarah sangat nyata menunjukkan bahwa jika umat Islam menang dalam bidang politik maka syiar Islam dapat berkembang secara pesat. Kejayaan Islam dapat dirunut dalam sejarah terkait dengan kekuasaan politik. Terbukti saat ini baru sebentar saja politik Islam di Indonesia sedang luruh maka dakwah Islam sudah mulai dicurigai, bahkan dikebiri, ulama’-ulama’ dibenci dan dicaci.

Islam sangat cepat berkembang karena dukungan politik dan perdagangan. Hal tersebut dapat di lacak melalui kajian sejarah baik di Arab maupun di Nusantara. Di Arab Islam berkembang melalui jalur perdagangan dan politik. Hal ini dapat dibuktikan bahwa ketika Islam masa Umayah, Abasiyah, dan Turki Usmaniyah Islam dalam Kejayaan. Namun setelah Islam politik runtuh maka Islam perkembangan Islam juga mulai luruh. Hal demikian juga di Nusantara ketika kerajaan kerajaan Islam di Nusantara kuat Islam berkembang pesat, namun setelah diruntuhkan oleh penjajah dari eropa maka kerajaan Islam mulai runtuh.

 

Purwadi dan Maharsi (2005) menulis buku Babad Demak menjelaskan bahwa Kraton Demak Bintoro terkait erat dengan penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Dengan dukungan penuh Wali Sanga, Kraton Demak Bintor tampil sebagai Kraton Islam yang kokoh dan berwibawa. Dalam pergaulan antar bangsa, Kraton Demak Bintoro paling menonjol dan sangat disegani di kawasan Asia Tenggara. Hal ini disebabkan oleh kontribusi Kraton Demak Bintoro dalam bidang ekonomi, pelayaran, perdagangan, kerajinan, pertanian, pendidikan dan keagamaan.

Sebagai Negara adidaya di kawasan Asia Tenggara, Kraton Demak Bintoro aktif melakukan konsolidasi dan diplomasi. Duta Besar Kraton Demak Bintoro ditempatkan di Negara-negara Islam. Misalnya saja Negeri Johor, Negeri Pasai, Negeri Gujarat, Negeri Turki, Negeri Parsi, Negeri Arab, dan Negeri Mesir. Sesame negeri Islam itu memang terjadi solidaritas keagamaan. Para pelajar dari Demak Bintor juga dikirim ke berbagai negeri sahabat tersebut. Saat itu Kraton Demak Bintoro memang muncul sebagai Kraton maritime Islam yang makmur, lincah, berilmu, kosmopolit dan agamis.

Pada tahun 1258, kota Baghdad yang selama lima abad menjadi pusat kebudayaan Islam dibawah kepemimpinan dinasti Abasiyah. Namun karena ditaklukkan oleh bangsa Tar-tar, Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan, sehingga mengakibatkan kepemimpinan Islam bergeser ke tangan kaum sufi. Oleh karena itu para saudagar Islam mengalihkan usahanya ke Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara.

Dakwah Islam mulai dari barat sampai ke timur di seluruh Nusantara lazimnya melalui jalur perdagangan. Pada akhir abad 13 M, pesisir utara Jawa telah memiliki raja-raja Islam. Pada awal abad 14 bukti-bukti adanya jejak Islam telah ada di Trengganu, Malaysia dan Jawa. Selain itu bukti penyebaran Islam telah menyebar di Brunei, Kalimantan, dan Maluku.

Sejak abad 13, sudah terjadi hubungan politik dan dagang antara orang-orang di kepulauan Nusantara dengan Arab, Persia, Hindia, dan Cina. Hubungan dagang terjadi terutama melalui jalur laut yang melewati pelabuhan-pelabuhan besar yaitu Lamuni, aceh, Barus, Bagan Siapi-api dan Palembang. Pelabuhan utama di pulau Jawa yaitu Pasundan Kelapa, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban, dan Gresik. Para buruh asing yang datang ke pelabuhan tersebut sambil menunggu musim yang baik, mereka membentuk koloni. Sejak tahun 674 M, di pesisir barat Sumatra sudah ada koloni-koloni saudagar yang berasal dari negeri Arab. Dari situlah terdapat komunitas-komunitas Muslim baik di Jawa maupun di Sumatra.

 

Purwadi dan Maharsi. 2005. Babat Demak, Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Jawa. Tunas Harapan. Jogjakarta. Hal 1-3.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY