Corona dan Kseimbangan Baru

Corona dan Kseimbangan Baru

204
2
SHARE

http://hardiwinoto.com

Hardiwinoto

Sudut pandang yang berbeda, sikap terhadap obyek juga berbeda. Corona, sebagian banyak masyarakat menganggap sebagai adzab atau kolobendu. Hal demikian karena mereka melihat dalam perspektif pendek. Corona juga bisa dianggap sebagai rahmat, karena melihat alam secara luas. Memandang bahwa alam perlu diistirahatkan sejenak. Agar secara sunatullah alam memperbaiki diri. Alam telah lama diperkosa, dieksploitasi, tentu sangat aus, rusak, atau ketidakseimbangan ekosistem. Jika tidak diistirahatkan, tentu tidak bisa refreshed. Lebih parah akibatnya. Akan terjadi bencana yang lebih besar.

Jika hanya dengan instrumen imbauan, peringatan atau sekedar pengumuman kepada manusia untuk istirahat bahwa alam akan diperbaiki. Tentu lebih banyak yang membantahnya. Sebagaimana peringatan untuk lokdon juga tidak semua mentaati baik institusi maupun perorangan. Maka corona adalah intrumen Allah untuk mengistirahatkan manusia dalam mengeksploitasi alam.

***

Corona memang menimbulkan banyak korban. Dari kesehatan yang terganggu masal dan menular sampai aktivitas ekonomi terhenti. Meski demikian memiliki dampak yang baik bagi alam. Laporan CarbonBrief, istirahatnya aktivitas ekonomi berdampak pada level karbondioksida atau CO2 di atmosfer anjlok 25%, jika dibandingkan ketika bisnis berjalan normal. Pabrik-pabrik, bisnis, aktivitas sosial istirahat demi mencegah penyebaran virus corona.

Penggunaan batu bara di pabrik, produksi minyak dan baja, perjalanan udara pun berkurang dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Ars Technica memaparkan bahwa pada 100 juta ton level CO2 lebih sedikit atau 6% penurunan emisi global di akhir tahun 2020 nanti. Pemantauan satelit menyebutkan bahwa level nitrogen oksida atau NO2 merosot 39% di dibandingkan tahun 2019. Artinya terjadi pembersihan paru-paru alam.

Ekonomi global yang merosot anggap aja untuk membayar ongkos refreshing alam. yaitub perbaruan lingkungan hidup. Kabar baik di tengah kabar buruk itulah yang kami sebut keseimbangan baru alam. Jika dilihat dari citra satelit, lockdown yang dilakukan untuk menghindari penyebaran virus corona menunjukkan bahwa tingkat polusi menurun drastis (Science Alert, (17/3/2020). Dengan menggunakan instrumen Tropomi pada satelit Copernicus Sentinel-5P (Januari sd Maret 2020), menunjukkan bahwa penurunan nitrogen dioksida, yakni emisi gas buang dari kendaraan bermotor dan asap industri, turun secara drastis (Claus Zehner, manajer misi Badan Antariksa Eropa (ESA) Copernicus Sentinel-5P). Sebuah kesaksian nyata bahwa penurunan polusi sangat dramatis pada area yang sangat luas (Fei, dikutip dari BBC, 1/03/2020).

***

Dari sisi ekonomi, corona membawa dampak positif. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI IGP Wira Kusuma, menyebutkan bahwa salah satu dampak positif tersebut adalah terbukanya peluang pasar ekspor baru. Terkait dengan corona, tujuan ekspor bisa dikembangkan ke negara negara yang industrinya terhenti. Pemerintah dipaksa memprioritaskan memperkuat daya beli di dalam negeri ketimbang menarik keuntungan dari luar negeri. Artinya keseimbangan ekonomi baru, yaitu melepaskan dari ketergantungan impor.

Momentum demikian dapat dimanfaatkan untuk mendorong investasi dalam negeri. Proyek-proyek infrastruktur dialihkan untuk dikerjakan oleh investor dalam negeri. Permintaan domestik menjadi peluang untuk memperkuat sektor manufaktur, menjadi ekspor komoditas. Artinya, corona harus direspon secara positif untuk beswasembada si segala sektor. Bahan impor dapat dipenuhi sendiri, sehingga corona menjadi momentum kemandirian ekonomi. Keseimbangan baru dari wabah corona adalah kita harus dipaksa berinovasi dan menjadikan tantangan menjadi peluang.

Kaca mata kebanyakan manusia corona adalah bencana. Dibalik itu pasti ada manfaat, secara individu, istitusi, dan atau masyarakat. Dalam Al Qur’an Surat Ali Imron 190 dinyatakaan bahwa “ya Allah Tuhan kami, tidak ada apa-apa yang engkau ciptakan adalah sia-sia”.

Manfaat yang paling nampak, ketika masyarakat mengeluh tentang kebanyakan impor hasil pertanian, adanya wabah korona, impor berbagai jenis makanan dan buah-buahan berkurang. Hal demikian dapat menggairahkan konsumsi produk pertanian dalam negeri. Justru menjadi berkah bagi supplyer dalam negeri. Artinya dapat menjadi momentum melepaskan ketergantungan terhadap asing. Penyerapan tenaga kerja asing bisa diganti oleh tenaga kerja lokal. Konsumsi produk barang atau jasa prioritas dari dalam negeri, bukan produk asing. Menjadikan keseimbangan ekonomi baru melalui swasembada.

Negara Iran pernah melakukannya. Swasembada berhasil diwujudkan saat Amerika Serikat mengembargo pasokan gandum ke Iran. Hasilnya, 10 tahun kemudian Iran berhasil swasembada gandum. Kini, Iran menjadi pengekspor gandum ke Amerika. Pembelajaran yang dapat diambil adalah tumbuh kesadaran bagi bangsa kita untuk mandiri, mewujudkan swasembada, dan membebaskan dari ketergantungan impor. Menyadari bahwa negara kita yang agraris mampu menjadikan sektor pangan sebagai comparative advantage. Penyebaran virus corona sebagai momentum menjadi negara yang mandiri. Menciptakan keseimbangan baru dalam ekonomi.

***

Kini, inisiatif untuk peduli viral bergelora memohonan dana untuk warga yang lemah ekonomi. Fiskal mandiri masyarakat bergotong royong melalui Facebook, Whatsapp Group, Twitter, Instagram, dan lain-lain memberikan santunan kepada kekuarga miskin yang terdampak dari semi lokdon. Bagi mereka, lokdon bukan pilihan, tetapi karena PHK.

Mereka menolong sama saja membayar perbaikan alam karena dengan corona. Alam dapat beristirahat untuk memperbaiki diri membentuk keseimbangan baru. Allah maha kasih sayang. Corona adalah bentuk dari kasih sayangnya. Setelah kesulitan pasti ada kemudian (Al Insyirah 5 dan 6). Ayat diulang dua kali berturut turut.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY